Makladuta, Pesona Kuliner dan Rekreasi di Kawasan Lereng Lawu

Jika Anda memasuki kampung Klatak pasti kaget. Di kampung yang terletak di belakang terminal bus kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar ini akan Anda dapati banyak pemandangan yang berbeda dari sebelumnya. Kampung Klatak kini dihias sedemikian rupa sehingga nampak cantik menawan. Di atas kali dengan aliran air deras yang membelah kampung digantungkan aneka hiasan berupa bunga-bunga imitasi, payung, lampion, lampu-lampu warna-warni nan elok. Tidak jauh dari situ juga dibangun sebuah panggung untuk pementasan seni. Tidak hanya itu, beberapa tembok di tempat yang strategis dibuat lukisan dinding atau mural. Tanggul, gang dan semua jalan akses ke rumah-rumah warga dipoles bersih, dirapikan, dibersihkan dan diperindah.

Salah satu Mural atau lukisan dinding

Di pintu masuk rumah-rumah warga juga ada yang berbeda, yaitu penyeragaman nomor rumah. Setiap rumah dipasang papan berbentuk bangunan rumah untuk identitas alamat penomoran rumah beserta nama jalan lengkap dengan Rt dan Rw. Tak ketinggalan munculnya beberapa kreativitas seni yang bertuliskan Makladuta yang merupakan kependekan dari Masyarakat Klatak Peduli Wisata. Dalam waktu bersamaan bermunculan pusat-pusat kuliner yang tersebar di beberapa rumah warga yang menjajakan aneka menu favorit makanan dan minuman seperti sop iga, kupat tahu, dawet, burger, lodeh opor bebek, ayam tim, dan masih banyak lainnya.

Tak pelak lagi pesona yang tiba-tiba muncul di kampung Klatak ini telah menyedot orang-orang luar berdatangan ke kampung yang kini menjadi asri ini. Para pengunjung yang diantaranya berasal dari tempat yang jauh seperti Solo dan Sragen ini selain untuk menyaksikan aneka tampilan kreativitas seni yang indah sambil berfoto selfie bersama keluarga juga untuk mencicipi beragam kuliner yang menggoda selera. Di hari-hari libur terlihat para pengunjung datang bersama keluarga, memancarkan wajah-wajah ceria.

Menurut Iqbal Ibrahim Ramadan (32 thn) salah seorang koordinator program yang menangani divisi perawatan dan penerangan menuturkan bahwa lahirnya gerakan Masyarakat Klatak Peduli Wisata yang disingkat menjadi Makladuta ini bermula ketika pada bulan Juni 2020 para sesepuh warga berkumpul di rumah Tamlikha, Lurah Karangpandan, yang secara khusus berembug untuk menemukan formula untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kampung Klatak. Setelah mereka berdiskusi panjang lebar para sesepuh masyarakat ini sepakat untuk membantu meningkatkan pendapatan warga dengan cara menciptakan kampung kuliner yang dinamakan Makladuta. Peluncuran program ini berjalan lancar lantaran adanya bantuan finansial dari Sri Harjono anggota DPRD Kabupaten Karanganyar sebesar Rp 200 juta. Untuk itulah Iqbal menghaturkan rasa terima kasihnya atas bantuan tersebut.

Salah satu warung kullner

Dengan adanya bantuan finansial tersebut dimulailah berbagai pekerjaan pada awal tahun 2021 yang meliputi rehap rumah warga yang sudah memiliki bisnis kuliner guna menarik pengunjung, menghias dan mempercantik lingkungan kampung berupa pemasangan aneka hiasan payung di atas kali, lampion, bunga-bunga imitasi, pembuatan air terjun, pembuatan panggung hiburan, lukisan mural di beberapa tembok yang berlokasi strategis. Pengerjaan mempercantik lingkungan sudut-sudut kampung hingga sekarang baru mencapai 25%. Nantinya akan diperluas hingga mencapai seluruh area kampung ketika tambahan bantuan dana sudah turun, imbuh Iqbal.

Seiring dengan pekerjaan memperindah lingkungan ini secara paralel dilakukan pengarahan kepada semua warga kampung Klatak untuk membuka bisnis kuliner di rumah masing-masing dengan memanfaatkan space yang ada seperti teras rumah, carport, ataupun halaman. Jadi lokasi warung-warung makan tidak terpusat di satu lokasi seperti layaknya foodcourt di sebuah mall akan tetapi tersebar di rumah-rumah warga. Setiap rumah menjajakan menu yang berbeda dengan warung tetangga. Sehingga pengunjung harus pintar dan bijak untuk memutuskan menu pilihannya agar tidak harus berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain. Para calon pengunjung tidak perlu khawatir karena untuk mensiasati kemungkinan kebingungan memilih menu bagi calon pengunjung, koordinator Makladuta sudah memanfaatkan aplikasi daring yang sudah dikenal masyarakat yaitu Google Map yang bisa memandu para calon pengunjung untuk menemukan rumah warga yang menjual menu pilihannya. Selain google map, koordinator juga sudah meluncurkan sebuah website untuk memberikan semua informasi terkait Makladuta yang bisa diakses di www.makladuta.blogspot.com

Salah satu warung kuliner

Pada awal-awal langkahnya banyak pengusaha kuliner pemula ini yang jatuh bertumbangan alias gagal. Kegagalan ini banyak diakibatkan karena mereka menggeluti sektor usaha baru tanpa dibekali keterampilan sebelumnya. Koordinator Makladuta segera menyadari permasalahan ini dan secepatnya mengambil langkah serius untuk mengatasinya dengan membentuk Tim Sebelas. Tim inilah yang mendampingi para pengusaha pemula ini sampai berhasil. Segala hal tidak lepas dari perhatian. Mereka diajari mulai dari cara mendekorasi ruang makan agar menarik, test food untuk memastikan agar makanan yang dijual enak dan berkualitas, hangga soal bantuan modal yang disalurkan lewat koperasi.

Dari 70 KK atau 55 rumah yang ada di Kampung Klatak sudah sekitar 11 rumah yang tergabung dalam jaringan kampung kuliner ini. Jenis makanan yang mereka jual beragam mulai dari makanan berat, makanan ringan hingga minuman. Menurut Iqbal, dengan jumlah rumah yang ada seharusnya juga harus ada 55 warung kuliner. Kedepan diharapkan akan semakin bertambah banyak lagi. Untuk mencapai tujuan tersebut berbagai upaya terus dilakukan misalnya setiap ada warung baru Tim Sebelas membantu membuat video promosi yang kemudian di-share di media sosial selama beberapa waktu. Selain itu semua warung juga sudah dipasarkan melalui aplikasi GoFood agar tidak hanya melayani penjualan makanan kepada pengunjung yang datang ke lokasi tetapi juga melayani penjualan kepada pembeli yang ada di tempat lain.

Nomor rumah seragam seuruh kampung

Apakah para pedagang kuliner yang tergabung dalam Makladuta ini sudah meraup untung? Seorang penjual dawet selasih, Nuril (36 thn) ketika ditanya menuturkan bahwa omset penjualannya belum maksimal. Pada saat ramai, biasanya pada hari libur, dia baru berhasil menjual 12 porsi. Sedangkan di hari-hari biasa hanya laku sedikit yaitu sekitar 7 porsi.

Seberapapun capaian hasil yang sudah oleh komunitas bisnis Makladuta ini, yang jelas rintisan bisnis semacam ini layak mendapat apresiasi. Kreativitas tinggi dalam bisnis belum tentu menjamin langsung meroket hasilnya. Apalagi momen peluncurannya dilakukan di saat merebaknya wabah pandemi Covid-19 dimana semua sektor usaha kolaps. Semua pihak pasti berharap pandemi segera berlalu agar dunia usaha pulih kembali.

Intip instagram Makladuta

Reporter: M. Ma’sum

#Makladuta
#wisata-kuliner
#Lawu

more recommended stories