Ki Ageng Jolono: Pengelana yang Kesepian

Pagi yang dingin itu matahari belum juga muncul. Saat itu tahun 1973 tidak seperti biasanya pecah sebuah keributan yang tidak biasa. Keheningan yang senantiasa melekat kawasan itupun pecah. Sebenarnya kawasan Lereng Lawu, terutama pada awal tahun 1970-an merupakan kawasan yang senantiasa masih diliputi ketenteraman. Yaitu suasana tenang sebagai hasil dari pola kehidupan masyarakat yang masih serba sederhana, belum banyak dijamah oleh teknologi modern. Oleh karena itu dinamika keseharian warga sesibuk apapun tidak pernah menimbulkan kehebohan. Kalaupun suatu Kehebohan sekali-sekali terjadi palinghanya karena terjadinya kasus-kasus kecil misalnya ketika ada pencuri jeruk yang tertangkap, atau seorang warga yang dimarahi polisi hutan karena mengambil kayu di hutan secara ilegal

Tapi kehebohan pagi itu lain dari biasanya. Warga berduyun-duyun bergegas menuju suatu tempat di bagian timur dusun untuk menyaksikan sebuah kejadian yang tidak biasa. Di wajah-wajah mereka terbersit keheranan. Kejadian yang dimaksud adalah sebuah patung yang sudah lama berada di bagian timur dusun berpindah dari tempatnya sejauh beberapa ratus meter. Nampaknya kejadian itu secara cepat tersebar dari mulut ke mulut hingga menjangkau warga yang jauh dari lokasi kejadian. Semua orang mengucapkan kalimat yang sama “reco ngalih.”Hingga bocah kecil yang baru belajar berbicara pun latah menirukannya dengan berulang-ulang meneriakkan dengan suara yang cedal menjadi “coaeh-coaeh” yang artinya “arca berpindah.”

Betul, kehebohan ini berupa sebuah arca yang terletak di bagian timur dusun yang berbatasan dengan hutan gunung Lawu itu tiba-tiba berpindah tempat sejauh beberapa ratus meter dari tempat asalnya.

Reaksi warga beragam dalam menanggapi kejadian itu. Mulai dari analisis yang logis hingga analisis lucu dan tidak masuk akal. Analisis yang muncul merupakan cerminan dari pola pikir yang berlaku umum di lingkungan masyarakat setempat. Orang yang berpikiran kritis mengatakan bahwa berpindahnya arca karena artefak tersebut hendak dibawa kabur oleh pencuri pada malam hari tapi batal karena beratnya arca. Sehingga arca digeletakkan begitu saja di jalan sebelum sampai ke jalan besar dimana kemungkinan sudah ada sebuah truk yang siap untuk mengangkutnya. Batalnya pencurian arca juga karena waktu keburu memasuki fajar dan beresiko kepergok warga. Alasan ini logis karena arca ini bisa jadi merupakan benda seni yang bernilai sangat tinggi.

Sedangkan warga yang tidak berpikir kritis dan cenderung mengaitkan segala peristiwa dengan hal-hal mistis membuat analisis lucu dan tidak masuk akal dengan mengatakan bahwa arca berpindah karena sang arca memang pergi dengan cara berjalan sendiri. Menurut kelompok warga yang berpendapat seperti itu, arca itu ingin pergi karena berbagai alasan.

Perdebatan dua pihak antara warga yang berada di kubu berpikiran kritis lawan kubu mereka yang berpikiran dangkal cukup seru. Serunya perdebatan telah sejenak mampu melupakan berbagai permasalahan kehidupan sehari hari yang banyak mendera.

Perdebatan keduanya tidak akan ada habisnya. Masing-masing kubu memiliki jumlah pengikut yang seimbang jumlahnya. Namun di balik serunya perdebatan tentang kejadian berpindahnya arca ini telah membuka mata dan telah menyadarkan banyak orang tentang berbagai hal yang selama ini luput dari perhatian bersama.

Orang telah lupa bahwa di sekitar mereka ada sebuah artefak yang bernilai. Mereka baru menyadari bahwa adanya kelengahan ini bisa berakibat raibnya benda purbakala yang merupakan warisan leluhur. Sedangkan bagi warga yang tinggal di dusun-dusun yang lebih jauh seperti Dusun Tagung, Dusun Gadungan dan dusun-dusun lain di sekitarnya mereka jadi tahu tentang adanya sebuah arca di tempat tersebut. Sebelum peristiwa ini orang tidak banyak yang tahu kalau ada sebuah arca di Dusun Cobuto.

Seiring dengan berlalunya waktu warga mulai melupakan peristiwa berpindahnya arca tersebut dan warga kembali pada kesibukan dan permasalahan sehari-hari yang sempat terbengkalai. Seiring dengan berlalunya waktu itu pula sekelompok warga berinisiatif mengembalikan arca ke tempatnya semula.

Dan hari ini di tahun 2020 ini arca yang sempat “berjalan-jalan” itu berdiri kokoh di tempat yang lebih layak dibandingkan sebelumnya. Saat dicuri pada tahun 1973 itu arca hanya berdiri di tepi jalan setapak dengan bersandarkan tebing dimana arca nyaris tertutup oleh rimbunnya tanaman sekitarnya. Dan hampir seluruh bodi arca terbalut lumut hijau sehingga seolah-olah arca berwarna hijau. Kini arca setinggi 70 cm ini berdiri di sebuah petak pelataran. Lumut yang menutup bodi arca juga sudah dibersihkan sehingga keindahan arca bisa terlihat jelas. Jalan di sebelahnya yang dulu hanya jalan setapak kini berupa jalan beraspal yang bisa dilalui mobil ukuran kecil menjadi akses keluar warga Dusun Gondang.

Beberapa fakta
Dusun dimana terdapat arca ini dikenal dengan nama Dusun Selorejo tapi orang lebih mengenalnya dengan nama Dusun Cobuto. Cobuto hanya sebuah dusun kecil yang jumlah warganya tidak lebih dari 24 Kepala Keluarga. Atau secara kewilayahanhanya berupa satu RT.

Disebut Dusun Cobuto yang merupakan kependekan dari Reco Buto atau berarti arca buta. Bukan buta tunanetra tetapi buta yang mengacu kepada sebuah karakter yang seram. Penamaan ini berdasarkan keberadaan sebuah arca tadi. Sebenarnya Cobuto bukan berupa wilayah yang berdiri sendiri tetapi hanya berupa sub-dusun dari Selorejo yang lebih luas yang berada di sebelah kiri jalan menuju ke Candi Sukuh. Atau bisa juga sub atau bagian dari Dusun Pabongan. Lebih jelasnya Dusun Cobutoini menyatu dengan Dusun Selorejo dan Dusun Pabongan. Lokasi dimana terdapat arca ini jika ditarik garis lurus ke arah komplek Candi Sukuh hanya berjarak sekitar 400 meter. Sehingga ada pihak yang menduga adanya kaitan arca di Dusun Cobuto ini dengan Candi Sukuh.

Sejarah
Hingga saat ini belum diperoleh penjelasan ilmiah dari Arkeolog maupun sejarawan kenapa ada sebuah arca di tempat terpencil ini. Juga belum diketahui arca ini menyimbulkan makna apa. Belum diketahui pula siapa yang membuat dan masa apa waktu pembuatannya, apa fungsinya. Jadi belum ada penjelasan yang pasti tentang asal usul arca. Belum ada yang bisa menjelaskan apakah arca ini juga merepresentasikan salah satu karakter pada Kidung Sudhamala, yang menjadi tema cerita pada rangkaian patung-patung sejenis di Candi Sukuh.

Satu-satunya informasi yang berhasil dihimpun hanyalah dari Arjo Prawiro, 67 tahun, warga yang tinggal dekat tempat keberadaan arca. Bahkan Arjo memproklamirkan dirinya sebagai penjaga dan perawat arca. Menurut pria ini arca sudah ada sejak sebelum dirinya lahir. Sehingga dia juga tidak mengetahui kapan dibuatnya. Bagaimana asal usulnya.Menurutnya arca ini dibuat oleh orang sakti atau para wali.

Arjo Prawiro yang sehari-harinya berprofesi sebagai tani ini memberikan penjelasan bahwa dia bersama beberapa orang pernah berinisiatif memindahkan arca ke komplek Candi Sukuh dengan maksud agar arca berkumpul bersama arca-arca candi dan memperkaya koleksi. Namun terjadi sebuah keajaiban. Secara misterius pada keesokan harinya arca kembali ke tempat semula. Kemudian mereka mencoba membawanya lagi untuk yang kedua kalinya. Namun lagi-lagi arca secara misterius kembali ke tempat semula.

Dengan “menolaknya” arca untuk dipindahkan ke Candi Sukuh dan dengan gagalnya upaya untuk mencurinya yang terjadi pada tahun 1973 telah menimbulkan keyakinan yang kuat pada diri Arjo bahwa arca ingin tetap bertahan di tempat tersebut dengan tujuan khusus yaitu memberikan pengayoman kepada warga masyarakat Dusun Selorejo secara umum dan Dusun Cobuto khususnya. Oleh karena itu Arjo merasa terpanggil untuk merawat dan menjaga arca. Bersama sejumlah warga pria ini pada tahun 1975 telah membangun pelataran untuk kedudukan arca sehingga arca kini berada di sebuah tempat yang terhormat dan layak. Arca dan lingkungannya dibersihkan dan dirawat secara berkala. Bahkan tidak hanya sampai di situ. Arjo dengan melakukan konsultasi dengan seorang warga senior Selorejo memberikan nama arca tersebut dengan nama Ki Ageng Jolono. Diberi nama demikian karena arca ini sejatinya seorang pengelana yang berhenti di tempat ini, imbuh Arjo.

Menganggap dirinya sebagai juru kunci situs Ki Ageng Jolono, Arjo merasa bertanggungjawab atas keselamatan arca dan selalu memastikan agar arca tetap berada di tempatnya dengan aman. Itulah sebabnya Arjo Prawiro mempertahankan dengan gigih tatkala suatu ketika arca Ki Ageng Jolono ini hendak diambil oleh yang mengaku sebagai pihak lembaga yang berwenang, yaitu Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Konon lembaga tersebut berusaha mengumpulkan seluruh artefak yang tersebar di seluruh Indonesia dengan maksud untuk mengumpulkannya di satu tempat agar memudahkan pengawasan dan pendataan.

Tidak seperti halnya Candi Sukuh yang ramai dikunjungi orang, hampir tidak pernah ada wisatawan maupun peminat artefak dan peminat situs purbakala yang mendatangi arca ini. Alasan utamanya karena letaknya yang terpencil. Lokasinya di pinggir jalan akses menuju ke Dusun Gondang. Jalan ini relatif sepi. Orang yang lewat jalan ini hanyalah warga Dusun tersebut. Selain lokasinya yang terpencil juga tidak ada petunjuk ataupun informasi keberadaannya. Maka jadilah Ki Ageng Jolono yang barangkali merupakan sebuah artefak yang bernilai seni yang tinggi tapi mengalami kesepian. Tidak ada yang melirik, mengkaji kesejarahannya apalagi mengapresiasi keindahannya. Sampai kapan dia akan mengalami kesepian? Mungkin jawabannya tergantung upaya Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar untuk mempromosikannya.

(mohammad.maksum@mail.ru)