Subagyo Mengembangkan Potensi Agrowisata Desa Nampurejo

Desa Nampurejo, Kabupaten Purwodadi, Jawa Tengah, bukan hanya dikenal dengan lorong mahoninya yang jadi spot berselfi ria. Desa ini juga mulai dikenal sebagai percontohan pengembangan tanaman obat keluarga atau toga dan tanaman langka berkhasiat untuk kesehatan serta salah satu desa argowisata. Geliat Desa Namuprejo sebagai desa agrowisata mulai dikembangkan Subagyo (54), putra daerah setempat.

Memasuki lokasi rumah Subagyo di RT 002 RW 001 Desa Nampurejo, hamparan beragam tanaman berwarna-warni mulai dari area depan hingga areal sekitar 1 hektar. Tanaman adas (Foenuiculum vulgare) yang berwarna hijau terlihat mencolok mulai tersusun rapi membentuk lorong jalan bagi pengunjung. Banyak tanaman berkhasiat yang tertata di halaman. Semakin menuju ke bagian belakang, tampak beragam pohon berbuah begitu menggoda pengunjung untuk memetik dan menikmatinya. Salah satu yang mencolok adalah hamparan pohon jeruk siam yang berbuah banyak.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Subagyo

Desa Nampurejo selama ini terkenal sebagai salah satu sentra perkebunan jeruk di Jawa Tengah. Ayah Subagyo yang menjabat sebagai Kepala Desa Nampurejo sejak 1982 selama 19 tahun termasuk yang pertama menanam jeruk. Desa Nampurejo dikunjungi mantan Gubernur Jawa Tengah Muhammad Ismail dan Soepardjo Rustam karena dikenal sebagai pertanian di pedesaan yang bagus.
Hasil panennya melimpah dan harga jual pada masanya tinggi. Subagyo tetap melanjutkan sebagai petani kebun jeruk dan tebu. ”Saya dari dulu memang lebih suka berwiraswasta. Namun, tahun 2000 masyarakat meminta saya jadi carik atau sekretaris desa. Ketika ada UU Desa, saya diangkat jadi PNS sejak 2007,” ujar Subagyo, ayah tiga anak.

Pertanian memang melekat dalam diri Subagyo sebagai warisan ayahnya yang mempunyai kebun jeruk dan tebu. Ia mengenang, meskipun ayahnya punya jabatan kepala desa, semua anaknya tetap membantu di kebun. Ketika itu, pembeli jeruk datang dari sejumlah daerah di Purworejo dengan sistem tebas atau borongan.

”Kalau sekarang penjualan jeruk lebih banyak untuk tetangga yang tukang bakul buah. Kasihan, kan, mereka juga mencari uang untuk hidup. Atau juga untuk pembeli yang datang dan metik langsung,” ujar Subagyo.

Subagyo mengaku hobi merawat dan mengembangkan tanaman. ”Kalau melihat tanaman, rasanya ayem, adem. Apalagi, kalau tahu tanaman yang diambil dari tempat kami bisa bermanfaat untuk obat bagi orang lain,” ujar Subagyo.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Subagyo bersama istrinya, Wiwik Latifah

Kembangkan potensi desa
Lebih dari tiga tahun lalu Subagyo berpikir untuk mengembangkan Desa Nampurejo menjadi desa agrowisata. Potensi buah-buahan sudah ada dengan ikon buah jeruk. Ia ingin mengembangkan desa agrowisata yang unik, yang sarat edukasi. Oleh karena itu, ia mengembangkan berbagai toga dan tanaman langka berkhasiat herbal.

Ia punya pikiran untuk bisa mengembangkan potensi pertanian di Desa Nampurejo menjadi penggerak ekonomi desa. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan manfaat dari beroperasinya Jalan Daendels yang melintasi Kecamatan Purwodadi, yang merupakan jalur alternatif jalur selatan; geliat wisata di Pantai Jatimalang; dan beroperasinya bandara baru Yogyakarta International Airport di wilayah Kabupaten Kulonprogo, yang tak jauh dari Desa Nampurejo.

”Tanah di sini subur dan tanaman bisa tumbuh bagus. Saya dan istri sering lihat di Youtube, banyak tanaman yang berfungsi herbal. Kami terpikir untuk mengembangkan agrowisata dengan tanaman beragam, termasuk toga dan tanaman langka. Saya akan berusaha mencari tanaman yang enggak dikenal dan sudah enggak dikenal anak muda sehingga dapat dikembangkan,” ujar Subagyo.

Perkebunan milik Subagyo pun terbuka untuk dikunjungi. Kunjungan dari Dinas Kesehatan serta banyak puskemas dan pengurus PKK tak berhenti ke Desa Nampurejo. Daya tariknya adalah toga.

Di kebun ini terdapat 116 macam toga. Sebagai contoh, toga yang tidak mengandung buah antara lain daun binahong, daun dewa, pegagan, bahkan ada gingseng. Tanaman berbuah yang berkhasiat untuk kesehatan antara lain kacang amazon (Burchonsia argantea) untuk menurunkan kolesterol dan menstabilkan tekanan darah; serta jeruk nagami (Citrus crassifolia) untuk diabetes dan kekebalan tubuh karena kandungan vitamin C, termasuk yang disenangi karena langka.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Subagyo menunjukkan salah satu koleksi tanaman berkhasiat di kebunnya, yakni kacang amazon (Burchonsia argantea).

Pada 2017, Desa Nampurejo menampilkan kebun toga milik Subagyo sehingga menang di tingkat kabupaten. Kebun toga ini mewakili Kabupaten Purworejo untuk ikut lomba toga tingkat Provinsi Jawa Tengah dan keluar sebagai juara satu.

”Banyak yang berkunjung dan mencari toga ke sini. Kadang-kadang kami beri begitu saja jika ada yang membutuhkan. Akibatnya, ada tanaman yang tidak tersedia. Sekarang mau kami benahi supaya bisa dikembangkan lebih bagus lagi toganya. Sambil juga menunggu tanaman lain untuk besar sehingga nanti siap dibuka sebagai desa agrowisata yang sarat edukasi,” ujar Subagyo, yang memilih pensiun dini dari PNS tahun 2018 untuk fokus mengembangkan perkebunannya.

Subagyo mengumpulkan toga dan tanaman langka dengan berburu di masyarakat yang memiliki, baik di desa maupun di luar desa. Ia juga mencari hingga ke Magelang, Yogyakarta, dan Kebumen, misalnya untuk mencari pohon apel kendil yang langka. ”Kalau yang langka, susah nemu di penjual. Kadang kami minta dan beli di masyarakat. Lalu kami anakan sehingga punya stok untuk terus dikembangkan,” ujar Subagyo.

Ajakan untuk mengembangkan desa agrowisata dilakukan Subagyo dengan mengobrol kepada warga. Pada acara kenduren/selamatan, ia tak sungkan memasukkan obrolan soal toga. ”Seperti mohon izin, jika nanti sudah jadi agrowisata, supaya masyarakat bisa menanam tanaman lain. Masyarakat sudah banyak yang menanam palawija. Ini potensi pertanian untuk mendukung agrowisata. Juga masyarakat sudah menanam seperti buah semangka. Pelan-pelan kesadaran untuk melihat potensi agrowisata bisa tumbuh,” ujar Subagyo.

Subagyo pun merasa senang karena sudah mulai muncul keluarga lain yang menanam toga. Koleksinya bisa saling melengkapi agar ketika desa mulai ramai wisatawan, persediaan tanaman toga bisa banyak dan bervariasi untuk dibeli pengunjung.

Subagyo bertekad mengembangkan lahannya sebagai percontohan desa agrowisata yang menarik. Di desa ini sudah ada desa agrowisata jambu air madu deli yang dikembangkan saudara Subagyo. Juga ada kebun pepaya california, kelengkeng, dan alpukat.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Subagyo (ketiga dari kanan) bersama mahasiswa KKN PPM dan dosen pembimbing KKN PPM Universitas Gadjah Mada di Desa Nampurejo. Mahasiswa KKN PPM UGM membantu pengembangan desa agrowista di kebun Subagyo.

Beruntung, dua tahun terakhir desanya mendapat dukungan dari program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada. Dosen pembimbing lapangan KKN PPM UGM, Sudaryatno, yang juga dosen Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh Departemen Sains Informasi Geografi Fakultas Geografi UGM, mengusung KKN tematik desa agrowisata untuk memajukan Desa Nampurejo.

Subagyo menuturkan, tahun 2018, mahasiswa KKN UGM membuatkan desain taman agrowisata yang menarik, termasuk dilengkapi dengan gazebo dan penataan yang menarik untuk spot berfoto ria. Adapun tahun 2019, mahasiswa KKN PPM UGM membantu memberikan label nama tiap tanaman yang ada sehingga memudahkan pengunjung mengetahui jenis dan khasiat dari setiap tanaman yang ada. Buku Keragaman Toga dan Tanaman Langka Desa Nampurejo sudah dibuat mahasiswa KKN untuk memberikan pedoman bagi masyarakat Desa Nampurejo terkait nama lokal, nama ilmiah, deskripsi morfologi jenis-jenis toga, dan bermacam manfaat dari toga.

”Kalau nanti tanaman sudah besar, akan diupayakan untuk gazebo dan penjualan, seperti jeruk dan kelengkeng. Jadi semacam kios kecil dari hasil kebun. Ketika masuk, pengunjung bisa melihat tanaman dan memetik langsung. Banyak tanaman yang belum dikenal masyarakat. Mereka bisa melihat langsung dan membeli. Targetnya setahun ini bisa tertata,” ujar Subagyo.

Nantinya, Subagyo menggandeng Karang Taruna untuk pengelolaan parkir. Ia pun yakin Desa Nampurejo akan jadi desa agrowisata yang menarik.

Data Pribadi

Tempat dan Tanggal lahir: Purworejo, 24 September 1964

Istri: Wiwik Latifah

Anak: 3 orang

Pendidikan: S-1 Hukum

Pengalaman Kerja
1. Sekretaris Desa (2007-2018)
2. Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia, Kabupaten Purworejo

Penghargaan
Juara I Tingkat Provinsi Jawa Tengah untuk kategori kabupaten terbaik sebagai pelaksana terbaik Toga (2017)

ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 8 Agustus 2019

more recommended stories