Pelaku Pariwisata Didorong Pahami Risiko Bencana

Berbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia tidak hanya membuat kerugian korban jiwa dan materi, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kemajuan pariwisata. Kerawanan bencana alam di Indonesia membuat wisatawan mancanegara takut sehingga perlu pembangunan pariwisata dengan melihat risiko bencana.

Data Kementerian Pariwisata, kunjungan wisatawan mancanegara selalu menurun pascabencana. Sebagai contoh, pada pascagempa Lombok, Nusa Tenggara Barat, 5 Agustus 2018, jumlah wisatawan bulan Agustus menurun menjadi 1.511.021 wisatawan. Padahal, jumlah wisatawan mancanegara pada bulan Juli mencapai 1.547.231 wisatawan.

Wisatawan menikmati suasana sore hari di pantai di kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (2/2/2019). Tsunami Selat Sunda yang melanda pesisir Serang hingga Pandeglang, Banten pada 22 Desember tahun lalu membuat sektor pariwisata sepi, kini kawasan wisata pantai mulai bangkit perlahan. Tsunami di pesisir Banten menunjukkan pentingnya mengurangi risiko bencana di area wisata. Kepentingan ekonomi mesti diimbangi mitigasi bencana.–Kompas/AGUS SUSANTO (AGS)–2-1-2019

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Wisatawan menikmati suasana sore hari di pantai di kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (2/2/2019). Tsunami Selat Sunda yang melanda pesisir Serang hingga Pandeglang, Banten pada 22 Desember tahun lalu membuat sektor pariwisata sepi, kini kawasan wisata pantai mulai bangkit perlahan. Tsunami di pesisir Banten menunjukkan pentingnya mengurangi risiko bencana di area wisata. Kepentingan ekonomi mesti diimbangi mitigasi bencana.

Jumlah itu kian anjlok pascagempa bumi di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, 28 September 2018. Bulan September itu, jumlah wisatawan mancanegara menurun menjadi 1.370.943 wisatawan dan Oktober turun lagi jadi 1.291.605 wisatawan. November kembali turun jadi 1.157.483 wisatawan.

Kepala Bidang Manajemen Industri Kementerian Pariwisata Wisnu Sriwijaya mengatakan, pariwisata di Indonesia terus bertumbuh. Namun, bencana alam sangat berdampak pada pertumbuhan pariwisata.

“Bencana alam berpengaruh pada keamanan dan kenyamanan pengunjung, kerugian materi dan fisik, kehilangan devisa karena pembatalan penerbangan, serta berdampak pada ekosistem pariwisata,” kata Wisnu dalam diskusi bertajuk Kesiapsiagaan Bencana Sektor Perhotelan untuk Industri Pariwisata yang Berkelanjutan yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Senin (6/5/2019).

Sebagai contoh, tsunami yang terjadi di Selat Sunda dan melanda wilayah Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) berpotensi terjadi kerugian ekonomi dari sektor pariwisata sebesar Rp 47,72 miliar. Berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) dan Badan Pusat Statistik (BPS), 10.681 kamar hotel kosong dan 21.362 wisatawan membatalkan kunjungan.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berharap ada teknologi yang mumpuni untuk mendeteksi potensi bencana. Adapun usaha dari Kemenpar pascabencana adalah mengembalikan kepercayaan industri, pemulihan, dan normalisasi seperti promosi pariwisata.

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) B Wisnu Widjaja mengatakan, gempa bumi merupakan salah satu bencana paling mematikan selain tsunami dan tanah longsor.

“Bencana paling banyak terjadi yakni hidrometeorologi seperi banjir, gelombang pasang, kekeringan, kebakaran hutan, dan tanah longsor yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan,” kata Widjaja.

Bencana tersebut berpengaruh besar pada sektor pariwisata di Indonesia. Akibatnya, wisatawan mancanegara menjadi takut dan batal pergi ke Indonesia. Padahal, mereka sudah memesan tiket dan penginapan.

Ketakutan tersebut terjadi, karena kesiapan pengelola obyek pariwisata yang masih kurang. Mereka tidak siap menghadapi ancaman ketika terjadi bencana alam. Selain itu, wisatawan mancanegara menganggap Indonesia tidak peduli pada kelestarian alam sehingga mudah terjadi bencana alam.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB B Wisnu Widjaja.

Menurut Wisnu, ketakutan wisatawan mancanegara tersebut dapat diatasi melalui mitigasi dan kesiapan dalam menghadapi bencana. “Mereka tidak akan takut berwisata di Indonesia ketika diberi tahu cara menyelamatkan diri saat terjadi bencana,” ujarnya.

Kondisi alam Indonesia yang berada di atas tiga lempeng tektonik utama yang aktif, yakni Eurasia, Pasifik, dan Hindia Astralia juga menyebabkan sering terjadi gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain.

Di sisi lain, kondisi itu membuat lanskap alam di Indonesia indah, memiliki keanekaragaman hayati tinggi, tanah subur, dan keragaman budaya yang kaya. Selain itu, pelaku pariwisata dapat mendirikan pusat pendidikan untuk mempelajari bencana di Indonesia, sehingga berpotensi menjadi destinasi wisata baru.

Pelaku pariwisata
Kepala BNPB Letnan Jenderal Doni Monardo berharap para pelaku industri pariwisata perlu melakukan pencegahan dan mitigasi bencana. “Kenali ancamannya, siapkan strateginya. Siap untuk selamat,” ujar Doni.

Para pelaku industri pariwisata memiliki peranan penting dalam penanggulangan bencana. Melalui upaya prabencana, pengelola pariwisata dapat memberikan inforsmasi kepada wisatawan atau dapat melatih kesiapsiagaan para pekerjanya.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Kepala BNPB Letnan Jenderal Doni Monardo.

Ia mendorong para pelaku pariwisata untuk melakukan mitigasi vegetasi pada hotel atau penginapan di dekat kawasan pantai. Salah satunya melalui penanaman pohon yang berfungsi mengurangi dampak tsunami.

Managing Director The Nusa Dua I Gusti Ngurah Ardita mengatakan, kawasan Nusa Dua siap menanggulangi terjadinya bencana di Indonesia sebab 90 persen wilayahnya berada di pinggir pantai. “Dengan jarak 100 meter dari pantai, maka kami mengelola tata bangunan dengan mempertimbangkan aspek keamanan,” kata Ardita.

Ia menyatakan, seluruh kawasan Nusa Dua terintegrasi pada sistem penanggulangan bencana dan memastikan seluruh bangunan tahan gempa. Selain itu, mereka aktif mengajak seluruh pengelola hotel ikut pelatihan antisipasi bila terjadi bencana alam.–PRAYOGI DWI SULISTYO

Sumber: Kompas, 6 Mei 2019

more recommended stories