Mengenal Daerah di Jawa Tengah: Kabupaten Semarang Melintas Jaman

Di Jawa Tengah ada dua wilayah yang namanya sama yaitu Kabupaten Semarang dan Kota Semarang, Kabupaten Semarang yang berada di sisi utara Pulau Jawa ini ternyata telah berusia hampir 500 tahun. Untuk melihat perjalanan sejarah Kabupaten Semarang berikut disajikan tulisan Dr. Purwadi, M.Hum.

A. Tokoh Pendiri Semarang.

Sejarah Kabupaten Semarang memiliki posisi strategis dalam kancah peradaban Jawa. pendiri Semarang bernama Ki Ageng Pandanaran merupakan keturunan Kasultanan Demak yang berkepribadian paripurna. Di kalangan Kejawen beliau juga dikenal dengan gelar Sunan Tembayat.

Ki Ageng Pandhanaran tampil sebagai pemimpin yang waskitha ngerti sakdurunge winarah. Tokoh penting dari Semarang yaitu Kanjeng Ratu Wetan, cucu Pangeran Benowo Pajang. Beliau menjadi garwa prameswari Sinuwun Amangkurat Tegalarum, yang menurunkan Gusti Raden Mas Drajad. Kelak bergelar Sinuwun Paku Buwana I, raja Mataram yang beribukota di Kartasura. Garis keturunan Semarang ini melahirkan raja Jawa, trah kusuma rembesing madu. Darah Semarang menurunkan raja raja Jawa.

Kedudukan Kabupaten Semarang yang menjadi sentral historis, politis, sosiologis dan ekonomis cukup diperhitungkan dalam kancah diplomasi kenegaraan di Asia Tenggara. Generasi muda perlu mengetahui seluk beluk sejarah lokal, demi menatap masa depan yang lebih gemilang.

Bakat kepemimpinan para pendiri Kabupaten Semarang hendaknya ditelusuri perjalanan sejarahnya. Sunan Pandhanaran adalah putra Pati Unus. Jadi Pandhanaran masih cucu Raden Patah, raja Demak Bintara. Beliau mendirikan Kabupaten Semarang pada tanggal 12 Rabiul Awal 927 H atau 15 Maret 1521. Nama kecil Pandhanaran yaitu Made Pandan. Karena besar jasanya dalam menyiarkan agama, lantas orang memberi sebutan Sunan Pandhanaran.

Kepribadian Ki Ageng Pandhanaran dalam mengelola Kabupaten Semarang dipengaruhi oleh faktor historis, sosiologis, filosofis dan theologis. Faktor historis terkait dengan leluhur Ki Ageng Pandhanaran yang masih keturunan Kraton Demak dan Majapahit. Watak kenegarawanan dibentuk oleh tradisi yang selalu labuh labet marang praja. Faktor sosiologis Ki Ageng Pandhanaran terkait dengan letak Semarang yang kosmopolis. Sepanjang pantai utara tanah Jawa menjadi tempat pelabuhan pelayaran dan perdagangan.

Tentu saja Semarang menjadi kawasan yang memiliki nilai jual secara ekonomis. Contoh yang nyata adalah industri mebel yang terkenal di Jepara. Kerajinan kayu jati memunculkan orang kaya seperti Sunan Hadirin. Bersama dengan Kanjeng Ratu Kalinyamat, Sunan Hadirin berhasil membangun kerajaan bisnis. Beliau tampil sebagai donatur kraton Demak dan kraton Pajang.

Pemikiran filosofis Ki Ageng Pandhanaran banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu, Budha dan Islam yang amat selaras.
Praktek theologis dengan pendekatan akulturasi budaya membuat Ki Ageng Pandhanaran menjadi penyebar agama Islam diterima oleh semua kalangan.

Maklum Ki Ageng Pandhanaran merupakan murid kesayangan Kanjeng Sunan Kalijaga. Tampil sebagai ulama dan umara setelah berguru kepada Sunan Kalijaga. Sebelumnya Adipati Pandhanaran diberi ujian berupa kekayaan emas. Ternyata Adipati Pandhanaran lulus ujian.

Sunan Kalijaga menyuruh pergi ke Gunung Jabalkat. Letaknya sebelah selatan kota Klaten, yaitu daerah Bayat. Ditengah jalan Sunan Pandhanaran bertemu dengan begal yang mencoba merampas harta benda istrinya. Begal yang merampok itu bernama Sambang Dalan. Dikutuk berubah menjadi seekor domba. Ketika perampok itu menjadi murid Ki Ageng Pandhanaran namanya adalah Syekh Domba.

Selama tinggal di Gunung Jabalkat, Ki Ageng Pandhanaran menjadi pelopor hidup gotong royong atau tembayatan. Maka daerah Ki Ageng Pandhanaran disebut Tembayat. Berkat jasanya ini maka masyarakat selalu meneladani. Setelah wafat dimakamkan di bukit Cakra Kembang Desa Paseban kecamatan Bayat Klaten Jawa Tengah. Pusaka warisan Ki Ageng Pandaran tiap Sura dijamas yaitu Tombak Ki Ageng Bayu dan Tombak Trisula.

B. Darma Bakti Para Bupati Semarang.

  1. Ki Ageng Pandhanaran atau Pangeran Mangkubumi I 1521-1553. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sultan Trenggana Raja Demak.
  2. Pangeran Ketib 1553-1586. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sultan Hadiwijaya Raja Pajang.
  3. Pangeran Menggala 1586-1589. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Panembahan Senopati Raja Mataram Kota Gedhe.
  4. Pangeran Nayamerta 1589-1605. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Panembahan Senopati Raja Mataram Kota Gedhe.
  5. Pangeran Arya Wangsa 1605-1620. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Prabu Hadi Anyakrawati Raja Mataram Kota Gedhe.
  6. Pangeran Khalifah 1620-1648. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sultan Agung Raja Mataram Pleret.
  7. Tumenggung Tambi 1648-1659. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Amangkurat Agung Raja Mataram Pleret.
  8. Tumenggung Yudonegoro 1659-1679. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Amangkurat Agung Raja Mataram Pleret.
  9. Tumenggung Mertoyudo 1679-1709. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral Raja Mataram Kartasura.
  10. Tumenggung Astroyudo 1709-1723. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana I Raja Mataram Kartasura.
  11. Tumenggung Surohadimenggolo I 1723-1734. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Amangkurat Jawi Raja Mataram Kartasura.
  12. Tumenggung Surohadimenggolo II 1734-1742. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana II Raja Mataram Kartasura.
  13. Tumenggung Surohadimenggolo III 1742-1751. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana II Raja Mataram Surakarta.
  14. Tumenggung Surohadimenggolo IV 1751-1779. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana III Raja Mataram Surakarta.
  15. Tumenggung Surohadimenggolo V 1779-1803. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV Raja Mataram Surakarta.
  16. Tumenggung Surohadimenggolo VI 1803-1822. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV Raja Mataram Surakarta.
  17. Tumenggung Surahadiningrat 1822-1836. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana V Raja Mataram Surakarta.
  18. Tumenggung Reksonegoro 1836-1849. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana VII Raja Mataram Surakarta.
  19. Tumenggung Suryakusumo 1849-1869. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana VII Raja Mataram Surakarta.
  20. Tumenggung Reksodirjo 1869-1883. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IX Raja Mataram Surakarta.
  21. Tumenggung Purbaningrat 1883-1912. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IX Raja Mataram Surakarta.
  22. Tumenggung Tjokrodipuro 1912-1927. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana X Raja Mataram Surakarta.
  23. Tumenggung Subijono 1927-1940. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana X Raja Mataram Surakarta.
  24. R.M. Amin Sujitno 1940-1943. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana XI Raja Mataram Surakarta. Keadaan menjadi tegang pada masa pemerintahan pendudukan Jepang.
  25. R.M.A.A. Soekarman Mertohadinegoro 1943-1945. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana XI Raja Mataram Surakarta.
  26. R. Soedijono Taroena Koesoemo 1945-1946. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Awal kemerdekaan masih banyak hal yang perlu dibenahi.
  27. M. Soemardjito Prijohadisoebroto 1946-1949. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
  28. R.M. Condronegoro 1949. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Pemerintahan disibukkan oleh perang kemerdekaan.
  29. M. Soemardjito Prijohadisoebroto 1949-1952. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Pasca perang kemerdekaan, kehidupan normal kembali.
  30. R. Oetoyo Kusumo 1952-1956. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Pemimpin dan rakyat saling membantu.
  31. Drs. Iswarto 1969-1979. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pembangunan segala bidang sangat gencar dilakukan.
  32. Ir. Soesmono Martosiswojo 1979-1985. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Suasana yang kondusif memperlancar proses pembangunan.
  33. Drs. Sardjono 1985-1987. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pertanian, perkebunan dan peternakan berkembang pesat.
  34. Drs. Hartomo 1987-1992. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Kesejahteraan rakyat menjadi program utama.
  35. Drs. Sudijatno 1992-1999. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Kepemimpinan periode ini mengalami masa transisi reformasi.
  36. H. Bambang Guritno, S.E., M.M. 1999-2006. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Didampingi Wakil Bupati Ir HM Tamzil (2000-2003) dan Wakil Bupati Hj. Siti Ambar Fathonah (2005-2006). Kekompakan ditunjukkan dengan kerja keras.
  37. Hj. Siti Ambar Fathonah, S.PdI 2006-2010. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pimpinan daerah senantiasa membawa kesejukan dan kedamaian.
  38. Dr. H. Mundjirin ES, Sp.OG 2010-2015. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Didampingi Wakil Bupati Ir. Warnadi, MM. Pimpinan pada periode ini selalu berpihak pada rakyat agar sejahtera lahir batin.
  39. Dr. H. Mundjirin ES, Sp.OG 2015-2020. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Didampingi Wakil Bupati Ngesti Nugraha, SH. Kepemimpinan periode ini cukup banyak bermanfaat bagi rakyat.

Daftar bupati Semarang sebelum tahun 1945 tertulis secara jelas dalam kitab Jawa Kuna yang tersimpan dalam perpustakaan Reksa Pustaka Kraton Surakarta Hadiningrat.

Buku-buku literatur kuna tersebut tertulis dalam bahasa Jawa Kawi. Literatur warisan nenek moyang tersebut perlu dibaca, dikaji dan dihayati demi pengembangan ilmu pengetahuan. Kabupaten Semarang menjadi pusat pengkajian kawruh kasampurnan.

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum; Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347

more recommended stories