M Yogi Fajri dan Dimas Suryo H Merawat Wisata Budaya dan Sejarah

Wisata virtual menjadi andalan di era pandemi. Tak hanya mencari untung, pegiat sejarah di Semarang, Dimas dan Yogi berbagi ilmu dengan masyarakat sekitarnya.

ARSIP PRIBADI—Muhammad Yogi Fajri mendirikan komunitas Lopen Semarang untuk merawat warisan sejarah dan budaya di Semarang.

Wisata budaya dan sejarah tidak selalu menarik perhatian. Muhammad Yogi Fajri (29) dan Dimas Suryo Harsonoputro (31) mengajak masyarakat untuk lebih mengenal warisan sejarah dan budaya di Semarang. Saat pandemi, mereka membuat program jalan-jalan virtual.

“Mari kita bergembira sukaria bersama. Hilangkan sedih dan duka mari nyanyi bersama. Lenyapkan duka lara bergembira semua. Lalalaalaa laaaa la mari bersuka ria.”

Lirik lagu “Bersuka Ria” yang diciptakan Presiden Soekarno, itu membuka virtual open trip bertema “Kapsul Waktu Semarang”. Penyelenggaranya adalah biro perjalanan wisata Bersukaria Tour. Digelar awal Mei 2020, acara itu seolah mengajak 16 pesertanya tetap gembira mengikuti tur meski hanya dari rumah.

Perjalanan yang dipandu Yogi itu dimulai dari tampilan peta kuno Kota Semarang dan arsip peta Kaart van Semarang (1946). Tak ada tatap muka, semuanya dilakukan secara daring. Di tampilan layar, Yogi menampilkan perbandingan tata kota Semarang zaman dulu dan kini.

Beberapa bangunan bersejarah berasitektur Eropa dia perlihatkan. Mulai dari Menara Syahbandar Sleko Kota Lama hingga Wisma Perdamaian (De Vredestein). Keberadaan bangunan ini menunjukkan perkembangan dan peradaban Semarang yang terbentuk sejak dulu hingga kini.

“Saat ini, tidak ada perjumpaan langsung, jadi saya harus bisa membangun narasi kuat agar tur tetap menarik dan asyik. Tantangan lain adalah menyusun materi yang ditampilkan secara runtut dan detail,” kata Yogi.

KOMPAS/MELATI MEWANGI—Virtual open trip yang diadakan oleh Bersukaria Tour pada awal April 2020. Mereka menawarkan beragam rute perjalanan virtual, antara lain Radja Goela, Candi Baru, Kota Lama, Zeven Ereveld, Waktu Kapsul Semarang, dan Multikultural.

Acara ini jadi alternatif baru di tengah pandemi Covid-19 sekaligus kado ulang tahun ke-4 Bersukaria yang didirikan Dimas pada 1 Mei 2016. Tak mungkin menggelar acara mengundang keramaian, Dimas dan kawan-kawannya memulai langkah baru.

Sejak awal Maret, pilihannya jatuh pada mengemas paket wisatanya secara daring. Perjalanan yang biasa dilakukan bersama-sama, kini beralih virtual. Kebiasaanya mengutak-atik peta digital jadi bekal masuk petualangan baru. Awalnya, Dimas harus menyakinan timnya untuk konsep jalan-jalan virtual ini, karena dikhawatirkan sepi peminat.

“Kami terus berlatih dan uji coba secara internal selama seminggu. Setelah menemukan cara yang pas, kami meluncurkan poster kegiatan perdana pada akhir Maret,” kata Dimas, yang pernah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Meksiko.

Ada dua program virtual yang ditawarkan, yaitu walking tour dan open trip. Rute perdana virtual walking tour bertema “Bodjongweg” digelar Sabtu (4/4/2020). Menunya menjelajahi kawasan bangunan lama dan baru di pusat Kota Semarang, seperti Lawang Sewu, Gereja Katedral, dan Kota Lama. Di luar dugaan, minat masyarakat tinggi. Ada 23 orang yang ikut dalam perjalanan daring itu.

Jauh sebelum inovasi itu hadir, petualangan Dimas dan Bersukaria tak bisa dipisahkan dari keberadaan Komunitas Sejarah Lopen Semarang. Tahun 2012, Yogi bersama teman-temannya saat masih mahasiswa mendirikan komunitas Lopen Semarang. Semua anggota komunitas mempunyai keprihatinan yang sama terhadap minimnya kesadaran masyarakat pada kepemilikan warisan sejarah dan budaya di Kota Semarang. Diambil dari bahasa Belanda, “Lopen” artinya berjalan kaki. Saat itu, Yogi menjadi Ketua Lopen Semarang.

Menurut Yogi, bangunan tua memiliki nilai sejarah yang rentan hilang karena perkembangan kota. Padahal upaya penyelamatan objek membutuhkan dana yang tak sedikit. Ia paham betul komunitas tak memiliki kapasitas dan pengalaman untuk mengadvokasi hal tersebut.

“Oleh sebab itu, kami berupaya merawat sejarah dengan menyebarluaskan dokumentasi dan cerita ke publik. Jika ada isu penggusuran objek bersejarah itu, gaung protes masyarakat terasa lebih kuat mencegah terjadinya penggusuran, sebab ada rasa memiliki,” ucap Yogi.

Tak mudah bagi Yogi yang tidak memiliki pendidikan sejarah untuk mengelola komunitas. Niatnya, kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian ahli dan dosen sejarah. Tak punya latar belakang pendidikan formal, ia dianggap tak kompeten. Yogi menerima semua keraguan itu dengan kian fokus dan menjalaninya dengan gembira.

Beberapa kali Yogi berkesempatan menemani peneliti dari luar negeri untuk melakukan riset sejarah di Semarang. Mereka mengenalnya dari blog pribadi milik dia tentang sejarah Semarang. Sejak kecil ia sudah terbiasa diajak orangtuanya untuk mengunjungi sejumlah bangunan tua. Namun, tak semua kenangan itu dapat diulang lagi, karena beberapa bangunan hilang tak berbekas.

Dia ingat perkataan almarhum Eko Budihardjo, mantan guru besar arsitektur dan perkotaan dari Universitas Diponegoro, bahwa bangunan tua adalah memori suatu kota. Jika hilang, kota bisa jadi gila sama seperti orang yang kehilangan memori.

“Jika kapasitas menjaga bangunan tak bisa direngkuh, setidaknya saya ingin terlibat dalam merawat narasi dan cerita sejarah di dalamnya. Langkah kecil ini belum seberapa, semoga semangat berbagi ini dapat bermanfaat,” kata Yogi.

Untuk menjawab tantangan itu, Yogi bersama komunitasnya terus menggelar banyak kegiatan. Sejumlah kegiatan seru mewarnai perjalanan komunitas ini, antara lain blusukan (jelajah lokasi sejarah), pameran ‘Kuno Kini Nanti’ (peradaban Kota Semarang), Semarang Historie, dan layar tancap film sejarah.

Sebuah pameran bertajuk ‘Kuno Kini Nanti’ adalah pameran yang menggambarkan perjalanan Kota Semarang dari masa ke masa hingga abad ke-20. Ada banyak foto, benda kuno, dan miniatur kereta yang ditampilkan di dalamnya. Lebih dari 300 pengunjung terpincut meramaikan pameran yang diadakan enam hari tersebut.

Lewat pameran ini Lopen Semarang ingin mendorong Pemerintah Kota Semarang agar membuka museum kota yang sampai sekarang belum ada. Dimas dan Yogi berharap agar aspek sejarah dan budaya di Semarang dapat menjadi prioritas pembangunan dan potensi wisata.

Kegiatan blusukan atau berjelajah ke lokasi sejarah di Semarang menjadi agenda rutin yang dilakukan setiap tiga bulan sekali. Beberapa rute yang pernah dilalui adalah antara Kampung Bugen Syuhada, Radja Goela Oei Tiong Ham, Kota Lama, dan Spoorlaan (jalur kereta). Perjalanan ini dilakukan untuk mendekatkan sejarah kepada kaum muda secara langsung. Tak berhenti di situ, mereka juga mendiskusikan hasil jelajah bersama-sama setelahnya.

Akan tetapi, usia Lopen Semarang tidak sepanjang semangat Yogi. Komunitas ini mati suri karena kesulitan meregenerasi anggota. Namun, sekecil apapun peluangnya, harapan harus tetap dijaga. Seperti Yogi, Dimas melihat semangat Lopen Semarang tak boleh mati. Gaya bertutur yang mudah ditangkap khalayak, terlalu sayang dibuang.

ARSIP PRIBADI—Dimas Suryo Harsonoputro bersama Yogi mendirikan biro perjalanan Bersukaria yang menyediakan tur sejarah di Semarang.

Tahun 2018, Yogi dan Dimas menggagas biro perjalanan Bersukaria. Tugas utamanya, mendampingi peserta hingga menyiapkan materi cerita sejarah dari beberapa rute dengan arsip. Saat kondisi normal, peserta yang ikut tur sejarah rata-rata sekitar 3-10 orang setiap minggunya, dengan biaya kisaran Rp 125.000- Rp 450.000 per orang.

Akan tetapi, bukan hanya rupiah yang mereka cari. Bersukaria juga memiliki program sosial bernama “Suka Berbagi” yang diadakan rutin setiap tahun. Kegiatan ini menjadi tempat berbagi para storyteller dan donatur kepada orang sekitar, misalnya mengadakan bakti sosial atau walking tour bersama.

“Saat pandemi kali ini, dana sosial yang terkumpul mencapai Rp 21 juta dan diwujudkan berupa bantuan sembako kepada warga terdampak, antara lain tukang kebersihan dan penjaga tiket di tempat wisata,” kata Dimas.

Ke depan, Dimas dan Yogi ingin menggerakkan wisata budaya dan sejarah di beberapa daerah dengan menggerakkan masyarakat lokal. Harapannya, semakin banyak orang mendapat manfaat dari keberadaan potensi wisata, terutama di tengah pandemi seperti ini.

Perjalanan mereka untuk merawat ingatan sejarah lewat narasi masih panjang. Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Namun, bersama waktu juga, mereka ingin menyelamatkan kisah masa lalu agar tetap jadi energi untuk hari ini dan esok nanti.

Muhammad Yogi Fajri

Lahir : Purworejo, 27 Februari 1991

Pendidikan:
– SMAN 2 Semarang (Lulus 2009)
– S1 Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Diponegoro (2016)
—————————
Dimas Suryo Harsonoputro

Lahir : Semarang, 24 Agustus 1988

Pendidikan:
– SMA Dwiwarna Bogor (2006)
– Strata 1 Manajemen Universitas Diponegoro (2011)

Oleh MELATI MEWANGI

Sumber: Kompas, 8 Juni 2020

more recommended stories