Kikis Kirwono, Perajut Ekonomi Desa-desa di Banyumas

Kikis Kirwono menyatukan banyak BUMDes untuk mengembangkan perekonomian desa di Banyumas, Jawa Tengah.

KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO—Sosok Kikis Kirwono (41) pegiat Badan Usaha Milik Desa Bersama di Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (16/6/2020).

Lahir dari keluarga kurang mampu di tepian Sungai Serayu, Banyumas, Kikis Kirwono (41) terdorong untuk bangkit mengatasi nasib. Sadar upaya individu tidak akan optimal, ayah tiga anak ini memilih menjalin kerja sama menyatukan desa.

Kikis Kiswono menjalin kerja sama dengan bekal pengalaman berorganisasi di Badan Usaha Milik Desa Bersama dan Badan Kerja Sama Antar Desa Kecamatan Kebasen. “Kami di BUMDes Bersama punya tagline ‘Waras Bareng, Pinter Bareng, Sugih Bareng’ (sehat bersama, pintar bersama, sejahtera bersama),” kata Direktur Bisnis BUMDes Bersama Brayan Bumi Banyumas dan Ketua Badan Kerja Antar Desa (BKAD) Kecamatan Kebasen itu, di Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (16/6/2020).

BUMDes Bersama Brayan Bumi Banyumas dibangun pada 2016 oleh para perwakilan kepala desa. BUMDes induk ini merupakan transformasi dari badan kredit desa dari 25 desa yang mengembangkan bisnis bersama selain unit simpan-pinjam. Usaha yang dilakukan antara lain peternakan dan pengadaan beras bagi karyawan RSUD Margono Soekarjo serta RSUD Banyumas.

“Dulu para kades berpikir bagaimana memajukan BUMDes masing-masing. Tapi setelah dibangun, tidak juga besar. Kami berpikir terbalik, kita besarkan BUMDes Bersama dulu, baru BUMDes di desa akan kecipratan. Untuk mencapai proyek besar itu perlu skala ekonomi dan orang profesional,” ujar Kikis.

KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO—Sosok Kikis Kirwono (41) pegiat Badan Usaha Milik Desa Bersama di Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (16/6/2020).

Bermitra dalam BUMDes Bersama, lanjut Kikis, dinilai lebih adil dan menguntungkan daripada bekerja sama dengan pihak ketiga. “Kalau sama-sama BUMDes, sudah tahu rohnya. Minimal tidak rugi. Kalau (kerja sama dengan) pihak ketiga, BUMDes harus untung. Jika prospeknya bagus, pihak ketiga cenderung ingin menguasai,” tambahnya.

Hingga kini dari 301 desa di Banyumas, baru ada 259 BUMDes. Jadi masih banyak BUMDes yang bisa menyatukan kekuatan. Tantangannya adalah bagaimana merangkul para kepala desa dan warganya agar mau bekerja sama dan membangun jaringan. Di Kecamatan Kebasen sendiri ada 200 kelompok usaha dari 12 desa.

Meski sanggup menggerakkan desa, Kikis mengaku tidak tertarik menjadi kepala desa. Ia lebih tertarik bermitra dan menjadi teman diskusi kepala desa yang memerlukan masukan untuk mencari solusi demi kemajuan desanya.

Ia, misalnya, memberi masukan untuk sebuah program pemberdayaan ekonomi desa. Desa itu diminta menyiapkan dana Rp 300 juta dalam tiga bulan untuk sebuah modal usaha, namun hanya mampu menyiapkan dana Rp 100 juta. Kikis lalu mengusulkan supaya pihak desa mengajak warganya membangun koperasi dan bersama-sama memiliki usaha bersama.

Sales kompor
Kikis, putra kedua dari tiga orang bersaudara, lahir di Desa Mandirancan, Kebasen. Sang ayah sehari-hari bekerja sebagai pengumpul barang rongsokan, sementara sang ibu pembantu rumah tangga. Semasa SMA, Kikis harus bekerja sebagai pengantar koran untuk menambah biaya sekolah.

Lulus SMA pada 1998, ia tidak bisa langsung kuliah, tapi harus bekerja lagi. Ia pernah menjadi sales keliling menjual kompor dan kosmetik dan menjadi pramuniaga di salah satu supermarket di Purwokerto. “Keliling jadi sales itu berat. Saya harus jalan kaki dari rumah ke rumah,” kenangnya.

Perjuangan Kikis untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, membuat dia terpanggil untuk ikut dalam gerakan pemberdayaan masyarakat desa. Ia ingin masyarakat yang tinggal di sebelah timur Sungai Serayu itu, tidak hidup miskin. Mereka umumnya bekerja sebagai petani dan penambang pasir.

Pengabdian Kikis dimulai pada 2009 dengan bergabung di Unit Pengelola Kegiatan Simpan Pinjam bagi Perempuan (SPP) Koperasi Berkah Sumber Rejeki, Badan Kerjasama Antar Desa Kecamatan Kebasen. UPK ini awalnya mengelola aset Rp 2,39 miliar dari program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan. Kini asetnya mencapai Rp 5,1 miliar.

Setelah sukses menyatukan BUMDes, Kikis bersama warga Kebasen, Gambarsari, dan Tumiyang merintis agrowisata yang memadukan perkebunan buah naga, usaha kopi luwak, panorama alam Watu Meja, dan wisata hutan. “Orang akan tertarik jika berkunjung ke satu wilayah dan bisa mendapatkan banyak hal. Ada wisata dan juga kulinernya,” ujar Kikis.

Kawasan wisata Watu Meja yang berada di Perbukitan Serayu, punya pesona tersendiri. Dari bukit yang terdapat bongkahan batu besar ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan alam berupa kelokan Sungai Serayu di sebelah barat serta puncak Gunung Slamet di sebelah utara.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA—Pemandangan Sungai Serayu dengan jajaran bukit yang memanjang terlihat dari obyek wisata Watu Meja, Desa Tumiyang, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin (8/8/2016). Keindahan lanskap Watu Meja menjadi modal untuk menggerakkan wisata desa.

Selain itu, pengunjung juga bisa melihat kereta api melintas di jembatan rel ganda Sungai Serayu, Bendung Gerak Serayu, serta areal persawahan nan hijau. Udara sejuk di tempat ini tercipta dari naungan hutan pinus tumbuh di sekitarnya. Kawasan ini masih terjaga kelestariannya karena dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

Kesuksesan Kikis mengembangkan potensi desa membuat ia sering diundang ke berbagai daerah seperti Purbalingga, Cilacap, Padang, Riau, Belitung, Ambon, Jakarta, dan Magentan sebagai fasilitator pemberdayaan desa. Ia juga diundang para akademisi untuk kepentingan serupa.

Senin (15/6) lalu, ia berbicara dalam webinar yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Ia menjelaskan bagaimana membangun kemandirian ekonomi desa melalui usaha bersama.

Dalam setiap kesempatan, ia selalu menekankan agar desa-desa bekerja sama menyatukan potensi ekonominya agar bisa sejahtera bersama. “Di Banyumas hampir tidak ada BUMDes yang punya sumber daya luar biasa seperti di Ponggok (Klaten). Maka, kita mesti bekerja sama, tolong menolong, dan berjejaring melalui BUMDes Bersama,” tegasnya.

Kikis Kirwono

Lahir: Banyumas, 28 Mei 1979

Istri: Susi Poningsih (38)

Anak: Al Ghamisha Lulu A (12), M Syamil Ar-Royyan (8), dan M Haidar Al-Fatih (3)

Pendidikan
SDN 3 Mandirancan, Banyumas (1992)
SMPN 1 Patikraja, Banyumas (1995)
SMAN 2 Purwokerto, Banyumas (1998)
S1 Manajemen Universitas Wijayakusuma Purwokerto (2019)
S2 Manajemen Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (2019-sekarang)

Kegiatan
Ketua BKAD Kecamatan Kebasen
Direktur Bisnis BUMDes Bersama Brayan Bumi Banyumas

Penghargaan
Kikis.id menjadi Nominator ID Website Awards 2016 untuk Kategori Blog dan Situs Personal yang diselenggarakan oleh PANDI (Pengelola Domain Internet Indonesia)

Oleh WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO

Editor: BUDI SUWARNA

Sumber: Kompas, 23 Juni 2020

more recommended stories