Fitnasih Menggerakkan Desa Wisata di Borobudur

Fitnasih adalah tokoh pemberdaya masyarakat di sektor wisata di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

KOMPAS/REGINA RUKMORINI–Fitnasih berharap warga Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah bisa mandiri dengan seluruh usahanya.

Fitnasih (29) selalu berusaha menjadi pemandu wisata yang mempunyai nilai lebih. Dia menawarkan paket wisata Borobudur yang menarik dengan memberdayakan seluruh kemampuan warga desa. Kini, seluruh warga desa menikmati hasil jerih payahnya.

Pandemi Covid-19 mendorong Fitnasih berbuat sesuatu untuk masyarkat sekityarnya. Dia sedang sibuk mengemas racikan wedang tradisional saat ditemui di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2020). Semangatnya untuk terus bergerak memberdayakan warga, tak pernah putus.

Di saat kunjungan wisatawan yang sepi, dia membuka usaha baru yaitu produksi wedang rempah tradisional. Fitnasih mempekerjakan empat warga desa yang terdampak pandemi. Bahan baku rempah didapatkannya dengan bekerja sama dengan lima petani dari Desa Karangrejo dan Giripurno.

Usaha wedang kemasan dan pertanian rempah-rempah ini juga akan dibuka menjadi destinasi wisata baru dengan melibatkan lebih banyak warga desa. Sejak awal, Fitnasih selalu berusaha memberdayakan masyarakat sekiyarnya. Berawal dari tahun 2017, Fitnasih yang akrab disapa Cemplon ini memulai dengan menjadi pemandu wisata.

Tanpa memiliki latar belakang terkait pariwisata, Fitnasih nekat menawarkan diri sebagai pemandu wisata. “Saat itu, pengetahuan saya pas-pasan. Tapi para tamu ternyata puas, dan saya diberi uang jasa Rp 100.000,” ujarnya.

Keberhasilannya memandu tamu tersebut, membuat Fitnasih berkeinginan untuk menerjuni profesi sebagai pemandu. Dia menutup usaha batu batanya yang menanggung kerugian karena ditipu. Setelah itu, Fitnasih meluangkan waktunya untuk datang ke Punthuk Setumbu. Selain menunggu tamu, dia berusaha menggali ilmu dari pemandu wisata yang lebih senior. Ketika itu, dia mulai berkenalan dengan pelaku wisata lain, seperti pengelola VW dan sepeda wisata.

Tahun 2018, bersama dua rekannya, Hani Rifanto dan Supriyono, dia membuat 10 paket wisata, yang di dalamnya juga melibatkan pelaku wisata desa lain. Dalam setiap paket, mereka melibatkan banyak orang dari berbagai kelompok, untuk ikut serta mendukung dan mencukupi kebutuhan peserta paket wisata.

“Mulai dari kelompok ibu PKK, perajin, para pengelola homestay, hingga kelompok pemuda, sebisa mungkin kami libatkan untuk melayani tamu. Masyarakat harus berdaya di desanya sendiri,” ujarnya.

Dia membuat program Dolan Ndeso Karangrejo dengan menggerakkan semua warga desa. Dari mulai tukang ojek sampai ibu-ibu PKK dilibatkan untuk mendukung pariwisata desanya. Tukang ojek diberdayakan untuk transportasi wisatawan. Sedangkan, ibu-ibu PKK diminta mencukupi kebutuhan makanan wisatawan.

KOMPAS/REGINA RUKMORINI—Fitnasih berusaha memberdayakan masyarakat sekitarnya untuk mengembangkan desa wisata.

Semangat pemberdayaan
Seiring waktu, Fitnasih bersama dua rekannya, terus mengembangkan koordinasi dan relasi dengan warga dari berbagai kelompok, seperti kelompok pemuda, dan perajin. Mereka bertiga intens mendata dan menanyakan kesiapan warga untuk menjadikan rumahnya sebagai homestay. Agar memuaskan tamu, warga yang siap membuka homestay akan didampingi untuk menjaga kebersihan serta melayani tamu dengan baik.

Dengan pendekatan yang dilakukan kepada warga ini, jumlah homestay pun meningkat pesat. Di lingkup Dusun Kurahan saja, jumlah homestay yang pada tahun 2017 hanya terdata tujuh unit, sekarang sudah ada lebih dari 50 unit homestay.

Dengan upaya tersebut, program Dolan Ndeso Karangrejo mampu mendatangkan 500-900 wisatawan per bulan. Dari kunjungan wisatawan tersebut, mampu mengalirkan ratusan juta rupiah yang akhirnya juga bisa memberikan penghasilan bagi puluhan hingga ratusan orang.

Dengan semua kiprah yang telah dilakukan, Fitnasih pun dianggap sebagai pelaku wisata yang sukses. Dia tampil di berbagai acara, salah satunya diskusi yang diselenggarakan dalam rangka hari ulang UNESCO, di Jakarta, Desember 2019. Dia selalu memaparkan pentingnya pemberdayaan dalam menggerakkan wisata di desa.

Dia menceritakan, keinginannya menggerakkan masyarakat untuk desa wisata diawali ketika masih menjadi pemandu wisata. Saat itu, Fitnasih kaget ketika ditelpon salah seorang tamu yang ingin berwisata bersama 30 orang anggota keluarganya. Dia diminta memandu rombongan itu selama dua hari dengan bayaran Rp 75 juta.

“Mulai dari kelompok ibu PKK, perajin, para pengelola homestay, hingga kelompok pemuda, sebisa mungkin kami libatkan untuk melayani tamu. Masyarakat harus berdaya di desanya sendiri,” ujarnya.

Belum pernah membuat paket wisata, Fitnasih tetap nekat mengiyakan tawaran tersebut. Setelah itu, dia pun tergopoh-gopoh mengatur penginapan, dan menghubungi relasi pelaku wisata, hingga akhirnya berhasil mengatur wisata ke lebih dari lima obyek wisata. Kendati demikian, dia tetap menyimpan rasa takut, khawatir jika ternyata para tamu tidak puas dengan layanannya.

“Ketika itu, teman-teman pemandu wisata lainnya bahkan mengatakan, jika gagal menyenangkan tamu, saya beresiko untuk digugat dan dilaporkan ke polisi,” ujarnya.

Namun, yang dikhawatirkan ternyata tidak terjadi. Para tamunya merasa sangat puas, dan dia justru mendapatkan bonus sebesar Rp 3 juta dari tamu.

Semangat Fitnasih untuk membuat paket wisata demi memberikan layanan lebih baik bagi para tamu, terus terpacu. Semula, dia menjalankan semuanya sendirian.

Rombongan tamu yang datanng untuk pergi ke Punthuk Setumbu, biasanya juga langsung ditanganinya sendiri, diangkut dengan mengerahkan bus kecil yang disewanya dari desa tetangga. Namun, dia pun terkejut ketika tiba-tiba ditegur oleh salah seorang wanita, pengemudi ojek, tetangganya sendiri. Warga tersebut menuduh bahwa sikap Fitnasih yang semacam itu, egois, dan tidak memikirkan orang lain, tetangganya, para tukang ojek yang sebenarnya bisa diberdayakan.

“Ketika itu, dia bilang kenapa saya tidak memikirkan orang lain. Kalau meninggal, toh saya tidak mungkin mengubur badan saya sendirian,” ujarnya.

Protes ini terus diingat oleh Fitnasih. Hal ini pun disampaikan kepada dua rekannya, yang lain, dan mereka pun sepakat untuk membuat 10 paket wisata yang dikemas dalam program wisata dolan ndeso Karangrejo, di mana setiap pelaksanaan paket wisata harus melibatkan warga sekitar.

Mengacu pada protes dari tukang ojek, maka pembenahan pun terlebih dahulu dilakukan dengan membentuk paguyuban ojek wisata. Upaya ini diharapkan untuk mempermudah koordinasi dengan tukang ojek untuk jasa pengantaran tamu, dan juga pengaturan giliran bekerja. Namun, setelah terkumpul sekitar 50 tukang ojek dalam grup percakapan di telepon selular, koordinasi tetap sulit dilakukan karena warga tidak siap.

Suatu ketika, usai menyampaikan rencana kunjungan 45 tamu, Fitnasih pun kebingungan karena tak satu pun tukang ojek merespon informasinya. Menyikapi hal itu, dia pun mendatangi beberapa tukang ojek dari rumah ke rumah. Saat itu terungkap bahwa para tukang ojek tidak merespon karena banyak dari mereka gagap teknologi, dan tidak terbiasa dengan percakapan online menggunakan aplikasi. Fitnasih pun mengajari mereka, satu demi satu, agar lebih memahami cara berkomunikasi di grup percakapan di telepon selular. Kendatipun akhirnya bisa mengumpulkan tukang ojek untuk menjemput tamu, kondisi tersebut membuatnya sangat stres, pesimis, ragu apakah kerjasama dengan tukang ojek ini bisa dilanjutkan atau tidak.,

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA—Foto indah adalah foto yang menyenangkan untuk dilihat. Ini adalah foto Candi Borobudur dilihat dari tempat yang bernama Puthuk Setumbu

Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seorang pria, tukang ojek lain, yang kemudian juga ditawarinya untuk ikut menjemout tamu. Bapak tua itu langsung mengiyakan, dan berulang kali mengucapkan terima kasih karena telah dilibatkan. Sontak, Fitnasih pun merasa terharu.

“Melihat respon bapak itu, saya jadi merasa bahwa saya masih dibutuhkan untuk membantu mereka (para tukang ojek),” ujarnya

Berangkat dari kondisi tersebut, cara berkoordinasi pun diperbaiki. Kini, setiap ada rencana kunjungan wisatawan, selalu dilakukan pertemuan dengan para tukang ojek, yang biasanya akan ditindaklanjuti oleh intern mereka, dengan membentuk tim khusus tukang ojek yang bertugas mengantar tamu.

Dengan komitmennya untuk terus memberdayakan warga di sektor wisata, Fitnasih berharap, warga Desa Karangrejo pun bisa ‘berdaya’ di kampung halamannya sendiri. Berdaya yang dimaksudkan adalah warga bisa bekerja, mengelola potensi wisata di desanya secara optimal, dan mendapatkan penghasilan di desa lain, tanpa harus pergi ke daerah lain.

Fitnasih

Lahir : Magelang, 15 Januari 1991

Pendidikan terakhir : Madrasah Ibtidaiyah (MI) Karangrejo

Anak : 1

Oleh REGINA RUKMORINI

Editor: MARIA SUSY BERINDRA

Sumber: Kompas, 11 Mei 2020

more recommended stories