Desa Wisata di Jatim Menggeliat

Destinasi wisata di Jawa Timur terus berkembang seiring kreativitas generasi muda memoles desanya menjadi desa wisata. Munculnya obyek wisata berbasis perdesaan menjadi pusat ekonomi baru bisa mengurangi ketimpangan masyarakat perdesaan dan perkotaan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa seusai Pembukaan Majapahit International Travel Fair (MTF) 2019 di Surabaya mengatakan, anak-anak muda di desa makin kreatif melahirkan destinasi wisata baru di daerahnya. Keindahan dipadu kearifan lokal menjadi daya tarik tersendiri dalam mengembangkan desa wisata. ”Dana desa memicu pertumbuhan desa wisata yang menjadi peningkatan percepatan ekonomi masyarakat perdesaan,” kata Khofifah.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Lanskap Ujung Kulon Desa Janggan, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Ujung Kulon Janggan merupakan obyek wisata alternatif di Magetan selain Telaga Sarangan yang sudah kondang.

Menurut dia, disparitas antara masyarakat perkotaan dan perdesaan di Jatim cukup lebar. Kemiskinan di perdesaan mencapai 15,2 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kemiskinan di perkotaan sebesar 6,9 persen. Keberadaan desa wisata menjadi basis ekonomi baru diyakini mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Khofifah mengatakan, Jatim memiliki banyak potensi desa wisata dengan beragam kearifan lokal yang belum dioptimalkan. Oleh sebab itu, dia mendorong anak-anak muda desa agar mengembangkan potensi tersebut menjadi sebuah pusat ekonomi baru yang bisa memberikan pemasukan bagi masyarakat sekitar.

Kampung Warna – Warni Jodipan – Suasana di salah satu sudut Kampung Warna-Warni Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (14/3). Kampung warna-warni tersebut merupakan salah satu kampung kumuh yang mampu berubah dari kampung kumuh menjadi kampung wisata hanya dengan mengecat ulang dan menata kampung tersebut agar menjadi bersih.
Kompas/Dahlia Irawati (DIA)–14-03-2018

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI–Suasana di salah satu sudut kampung warna-warni di Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (14/3/2018). Kampung warna-warni tersebut merupakan salah satu kampung kumuh yang menjadi kampung wisata hanya dengan mengecat ulang dan menata kampung tersebut agar menjadi bersih.

Dia mencontohkan, desa wisata di Pujon Kidul, Kabupaten Malang, tumbuh dan memberikan penghidupan bagi masyarakatnya. Saat ini desa wisata tersebut mampu menyerap tenaga kerja hingga 600 orang dengan pendapatan Rp 4 juta per bulan. Sumbangan pendapatan asli daerah ke pemda mencapai Rp 2,5 miliar per tahun.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim Sinarto mengatakan, hingga saat ini ada 290 desa wisata di Jatim. Sebanyak 26 di antaranya merupakan desa wisata unggulan yang mampu menarik ribuan wisatawan per tahun.

”Kami melakukan promosi hingga ke luar negeri untuk menarik wisatawan. Di sisi lain, warga desa diberikan bimbingan untuk mengelola potensi yang ada di desanya agar menjadi unggulan dan daya tarik wisatawan,” ucapnya.

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan, pengembangan sektor wisata di daerah memiliki efek domino bagi perkembangan ekonomi daerah tersebut. Jika pariwisata tumbuh, kepercayaan investor untuk berinvestasi di sektor pariwisata akan berkembang.

Selain itu, bisa menumbuhkan pasar baru bagi pelaku perdagangan. ”Keberadaan Tol Trans-Jawa membuat akses menuju perdesaan semakin mudah,” kata Emil.

Suasana dan wahana yang ditawarkan di Wana Wisata Bukit Pinus Carangwulung di Wonosalam, Jombang, Jawa Timur. Objek wisata tersebut dibuka pada awal 2017 dan menjadi salah satu tujuan plesiran masyarakat Jombang dan sekitarnya. –Kompas/Ambrosius Harto (BRO) –15-07-2017

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Suasana dan wahana yang ditawarkan di Wana Wisata Bukit Pinus Carangwulung di Wonosalam, Jombang, Jawa Timur. Sabtu (15/7/2017).

Menurut Ketua Asita Jatim Arifudinsyah, desa wisata harus konsisten dalam menjaga destinasi agar bisa ditawarkan kepada wisatawan mancanegara. Wisatawan mancanegara biasanya lebih tertarik ke kearifan lokal dan wisata alam sehingga pengelola desa wisata tidak perlu membuat obyek wisata yang modern.

Hafiz Dimas Pratama dari Kelompok Sadar Wisata Desa Serang, Blitar, mengatakan, butuh waktu dua tahun untuk mencapai jumlah pengunjung yang cukup banyak. Selama masa itu, jumlah wisatawan masih sedikit.

Namun, warga terus konsisten mengembangkan desa wisata sehingga kini jumlah pengunjungnya 4.000 orang per bulan. ”Meskipun desa wisata dikelola badan usaha milik desa, warga sekitar turut berkontribusi menjaga dan mengembangkan wahananya,” ucap Hafiz.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Peserta Surabaya Vaganza Parade Budaya dan Bunga beratraksi di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Minggu (24/3/2019). Pawai dalam rangka HUT Ke-726 Kota Surabaya itu dimulai dari Tugu Pahlawan dan berakhir di Jalan Raya Darmo. Pawai diikuti 40 mobil hias dan 37 komunitas lintas budaya.

Mengubah budaya
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jember Anas Ma’ruf, hingga saat ini sudah ada 21 dari 226 desa di kabupaten itu yang sudah menjadi desa wisata. Desa lain yang belum menjadi desa wisata kini banyak yang sudah mengajukan proposal ke Dinas Pariwisata.

”Nanti desa-desa itu akan didampingi oleh dinas terkait pengembangan desa wisata disesuaikan dengan potensi masing-masing. Semisal ada desa layak menjadi dewa wisata dari sektor perkebunan, ada hortikultura atau alam,” katanya.

Paling tidak, kata Anas, sejak digalakkannya desa wisata, tidak hanya ekonomi rakyak yang terdongkrak. Budaya masyarakat di perdesaan juga ikut berubah ke arah yang positif, seperti lebih tertib serta lingkungan semakin tertata dan bersih.

Areal persawahan terasiring di Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat (22/3/2019). Realisasi penyerapan gabah dalam negeri masih minim. Sejak awal tahun, Bulog telah menyerap sekitar 27.000 ton setara beras. Padahal, penyerapan selama Januari-Maret 2019 sebelumnya ditargetkan 1,45 juta ton. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS)
22-03-2019

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Areal persawahan terasiring di Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat (22/3/2019). Realisasi penyerapan gabah dalam negeri masih minim. Sejak awal tahun, Perum Bulog telah menyerap sekitar 27.000 ton setara beras. Padahal, penyerapan selama Januari-Maret 2019 sebelumnya ditargetkan 1,45 juta ton.

“Kehadiran banyak orang ke desa ikut mengubah pola hidup warga terutama terkait dengan kebersihan dan kenyamanan lingkungan desa,” ujarnya sembari menambahkan di Jember desa wisata yang sudah banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun luar negeri, antara lain Tanoker Ledokombo, permainan tradisional dieksplorasi dan wisata batu jubang di Desa Suco Mumbulsari.

Hal serupa juga diungkap Didik dari Kampung Budoyo Polowijen, Kecamatan Blimbing di Kota Malang. Di kampung ini wisatawan bisa belajar menari, membuat topeng dari fiber, ataupun mewarnai topeng.

Tak kalah seru Desa Wisata Jambu di Kecamatan Karen, Kabupaten Kediri. Di desa ini sudah lima tahun terakhir pemilik rumah menanam kelengkeng. Sampai saat ini, di Desa Jambu ada 8.700 pohon kelengkeng. Wisatawan yang berkunjung ke desa ini, kata Agus Joko Susilo (46), sepanjang tahun bisa ikut memetik buah kelengkeng, alpukat, panen padi, dan memerah susu kambing etawa.

”Setiap rumah memiliki paling tidak dua pohon kelengkeng yang panen dua kali setahun. Setiap panen dari satu pohon bisa menghasilkan uang Rp 1 juta,” katanya.

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Wisatawan menikmati jajanan pasar sor pring (di bawah pohon bambu) di Desa Ngadi, Kecamanan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (24/3/2019). Keberadaan tempat wisata tersebut membuat warga berkontribusi langsung untuk menjaga pohon bambu. Tempat wisata bertema alam dikembangkan di sejumlah desa. Mereka mengangkat potensi wilayahnya agar dapat menggerakkan perekonomian masyarakat selain dari sektor pertanian.

Untuk menarik wisatawan, Pemerintah Kota Surabaya terus memperbanyak spot atau tempat berfoto. Spot itu tidak hanya di ruang terbuka hijau seperti taman, tetapi juga trotoar dan bangunan bersejarah di sekitar Jembatan Merah. Pemkot pun terus melakukan penataan kembali kota tua seperti di Kembang Jepun, Jembatan Merah, dan Pelabuhan Tanjung Perak.

Pengunjung berfoto di Ekowisata Mangrove, Wonorejo, Surabaya, Selasa (15/1/2019). Hutan Mangrove menjadi salah satu destinasi wisata di Surabaya.
KOMPAS/IQBAL BASYARI (SYA)
Untuk serial koming atau urban HPN.

KOMPAS/IQBAL BASYARI–Pengunjung berfoto di Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya, Selasa (15/1/2019). Hutan mangrove menjadi salah satu tempat favorit warga untuk berfoto dan diunggah di media sosial.

Tempat wisata pun terus ditambah meski sudah ada 400 taman yang tersebar di seluruh Kota Surabaya. Kini sedang dilengkapi berbagai sarana di Ekowisata Mangrove di Wonorejo dan Gunung Anyar. Di Pantai Kenjeran, yang kini sudah ada Jembatan Suroboyo dan Taman Suroboyo, dipercantik dengan patu Suro dan Boyo serta akan dilengkapi kereta gantung.

KOMPAS/IQBAL BASYARI–Warga melintasi Jembatan Merah di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (26/8/2017). Pemerintah Kota Surabaya terus merawat bangunan-bangunan bersejarah yang menjadi landmark kota.

IQBAL BASYARI/AGNES SWETTA PANDIA

Editor AGNES PANDIA

Sumber: Kompas, 2 Mei 2019

more recommended stories