Askar Daeng, Penggerak Wisata Perdesaan di Sumbawa

Askar Daeng berhasil menjual pengalaman hidup di Desa Labuhan Burung, Sumbawa, sebagai paket wisata yang menarik minat wisatawan asing.

ARSIP PRIBADI—Askar Daeng Kamis saat berada di Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa (21/4/2020). Ia menjual pengalaman hidup di desa kepada wisatawan asing.

Askar Daeng Kamis (50) melihat adanya pergeseran pariwisata dari wisata massal ke wisata alternatif dan kini wisata perdesaan. Ia menangkap peluang itu dan mengembangkan wisata perdesaan di Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Modalnya, tradisi dan kehidupan sehari-hari warga.

”Pariwisata itu perjalanan mencari pengalaman dan ilmu pengetahuan. Atmosfer di desa beserta tradisinya memberi pengalaman (baru) bagi wisatawan,” ujar Askar, Selasa (21/4/2020), di rumahnya, Kota Mataram, Lombok, NTB.

Labuhan Burung berjarak sekitar 2 kilometer dari jalan raya Lintas Pulau Sumbawa. Penghuninya warga multietnis yang terdiri dari Suku Samawa, Sasak, Bugis, Makassar, Bajo, dan Selayar. Karena itu, tradisi dan budaya di desa tersebut cukup kaya dan beragam. Bagi Askar, kekayaan itu bisa dikemas menjadi produk wisata yang menarik minat wisatawan khusus. Pelancong semacam itu biasanya tertarik pada keindahan alam, adat istiadat, tradisi, cara hidup, dan kuliner daerah yang mereka kunjungi.

Askar dan warga Desa Labuhan Burung mencoba menangkap minat itu dengan menawarkan pengalaman hidup di desa kepada wisatawan. Pelancong yang datang diajak melihat petani menanam atau memanen padi di sawah, lalu diajak ke pasar melihat beragam sayur, buah, ikan laut yang diperjualbelikan. Bahkan, cara warga bertransaksi di pasar pun ”dijual” kepada wisatawan.

Setelah itu, para wisatawan diajak menikmati keindahan pulau berpasir putih tidak jauh dari Desa Labuhan Burung untuk menikmati pemandangan matahari tenggelam nan indah. Mereka juga diajak melihat hiu paus, menanam mangrove, dan mengikuti beberapa tradisi, seperti bekelili dan malala.

ARSIP PRIBADI—Wisatawan diajak menanam mangrove di perairan Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Bekelili adalah tradisi menangkap kerang di dalam pasir. Kerang yang ditangkap langsung dimasak dan dihidangkan kepada wisatawan. Adapun malala adalah tradisi membuat minyak sumbawa secara massal di Desa Muir. Minyak itu dipercaya bisa menambah stamina dan mengatasi masalah persendian.

Di malam hari, Askar mempertemukan para wisatawan dengan sesepuh kampung yang akan bercerita tentang sejarah, tradisi, dan budaya desa itu. Ia menginapkan tamu di rumah-rumah warga agar mereka bisa merasakan hidup dalam keluarga perdesaan Sumbawa.

”Intinya wisatawan diajak menciptakan sendiri pengalamannya berinteraksi dengan masyarakat, dan lingkungannya. Pengalaman itu akan menempel dalam ingatan wisatawan sepulang dari obyek wisata yang dikunjunginya,” kata Askar, Selasa (21/4/2020), di rumahnya di Kota Mataram, Lombok.

Dicurigai
Askar bukan orang baru dalam industri pariwisata. Ia memiliki pengalaman sebagai general manajer sebuah resor dan vila di Bali selama 20 tahun. Ia kemudian memutuskan merintis pariwisata perdesaan dengan membentuk Komunitas Kaki Jalan.

Komunitas itu fokus membangun desa wisata dengan menempatkan masyarakat desa sebagai pelaku pariwisata dan penerima manfaat dari kegiatan pariwisata. ”Pelesiran model begini (wisata desa) kan berbasis masyarakat perdesaan, jadi keterlibatan masyarakat itu mutlak,” katanya.

ARSIP PRIBADI—Wisatawan yang berkunjung ke Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, belajar teknik menyulam dari para ibu rumah tangga desa itu.

Ia membangun wisata perdesaan di Desa Labuhan Burung, Sumbawa pada 2017. Awalnya, tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat agar mau terlibat. Alih-alih didukung, ajakan Askar untuk menggerakkan wisata perdesaan malah dicurigai. Ia disangka sebagai politisi yang sedang kampanye untuk mengikuti pemilihan anggota DPRD Sumbawa.

”Setelah saya bawa turis, baru warga percaya saya tidak nyalon. Dari situ mulai tumbuh inisiatif bersama untuk membangun fasilitas pendukung pariwisata di desa itu,” kenang Askar.

Banyak hal dilakukan Askar untuk membangun wisata perdesaan di Desa Labuhan Burung. Ia mencermati tradisi budaya, keindahan alam, hingga keseharian warga yang bisa ia kemas sebagai paket pariwisata. Ia mempersiapkan warga untuk menerima wisatawan. Misalnya dengan mengajari warga bahasa Inggris dan cara memandu wisatawan ketika menjelajahi tempat-tempat indah atau ketika mengikuti acara adat.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menyiapkan aneka fasilitas dan akomodasi untuk wisatawan. Saat itu, ada lima rumah warga yang disiapkan menjadi penginapan wisatawan dengan standar yang sama, yakni ada halaman rumah, ruang tidur, dan kamar mandi yang bersih. Tiap kamar tersedia kelambu dan satu kipas angin. Dana untuk membenahi rumah warga yang dijadikan penginapan ditanggung oleh pemilik rumah.

ARSIP PRIBADI—Askar Daeng Kamis

Askar dan warga Desa Labuhan Burung secara resmi meluncurkan paket wisata perdesaan pada awal 2018. Paket wisata tiga hari dua malam dijual Rp 5 juta. Harga sudah termasuk biaya penginapan, tiga kali makan, biaya tur, dan sewa perahu. Target mereka adalah wisatawan minat khusus, peneliti, dan aktivis LSM global yang senang menjelajah. Promosi dilakukan lewat jaringan pertemanan dan media sosial.

Tidak lama setelah paket diluncurkan, ada 14 wisatawan yang datang ke Desa Labuhan Burung. Mereka berasal dari Chile, Belgia, Perancis, Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Indonesia. Sejak saat itu, wisatawan terus mengalir secara rutin. Rumah warga yang dijadikan penginapan pun bertambah menjadi 10 rumah. Askar kemudian mulai melibatkan warga dari desa lain untuk ikut dalam gerakan pariwisata perdesaan di Sumbawa.

Sebelum pandemi Covid-19, kata Askar, ada saja wisatawan yang datang dan menginap di sana. Desa yang tadinya tidak ada dalam peta industri pariwisata, kini mulai dilirik.

Askar Daeng Kamis

Lahir: 3 Februari 1970, di Sungai Lakar, Riau

Isteri: Rini Handayani (38)

Pendidikan:
SDN 8 Selatpanjang, Riau (tamat 1982)
SMPN 2 Alas, Kabupaten Sumbawa (1985)
SMAN 2 Tanjung Pinang, Riau (1988)
The Hong Kong Polytechnic University: Micro Master Program Mayor International Hospitality Management (2017)
Curtin University Australia Certification Program : Digital Branding & Engagement (2017)
Harvard University Certification Program: Contract – From Trust to Promise to Contract (2016)
University Of Pennsylvania Certification Program: Analyzing Global Trends for Business and Society (2016)
Indian Institute Of Management Banglore: Certification Program Introduction to Accounting (2016)
New York Institute Of Finance: Certification Program Understanding the Federal Reserve (2016)
Cornell Univerisity Certification Program: Global Hospitality Management (2015)

Oleh KHAERUL ANWAR

Editor BUDI SUWARNA

Sumber: Kompas, 23 Mei 2020

more recommended stories