Asep Hidayat Mustopa, Berbagi Rejeki dari Hanjeli

Kalau di kampung ini, sekitar 50 persen lahan warga ditanam hanjeli. Tanaman ini bisa menjadi pangan alternatif selain beras

Asep Hidayat Mustopa (32) tidak ingin sendirian menikmati rejeki dari hanjeli (Coix lacyma–jobi L.), sumber pangan melimpah di kampungnya. Di salah satu sudut Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, dia bersama warga Desa Waluran Mandiri membentuk desa wisata sehingga banyak potensi yang bisa dirasakan bersama.

ARSIP PRIBAD–Asep Hidayat Mustopa berhasil mengajak warga Kampung Waluran 2, Desa Waluran Mandiri, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat untuk membudidayakan hanjeli.

Jumat (3/4/2020) siang, Asep Hidayat menunjukkan jalanan di Kampung Waluran 2, Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi. Di pinggir jalan, tepian danau, hingga pekarangan berjejer tanaman hanjeli yang dikenal warga local dengan nama jali. Tanaman hanjeli tingginya mencapai lebih dari dua meter.

“Kalau di kampung ini, sekitar 50 persen lahan warga ditanam hanjeli. Tanaman ini bisa menjadi pangan alternatif selain beras. Nilai ekonomis juga tinggi,” ujar Asep.

Hanjeli bukan tanaman baru di Waluran. Namun, sebelumnya, warga hanya menggunakannya sebagai makanan selingan. Sebelum dibudidayakan, hanjeli sekadar jadi pagar lahan pertanian atau kebun warga. Asep pun jeli melihat potensi hanjeli.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA—Makanan berbahan hanjeli ditampilkan dalam Festival Pangan Lokal Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (13/8/2019).

Petualangannya dimulai setelah memutuskan “pensiun” jadi pekerja migran di Arab Saudi tahun 2010. Dia mantap bekerja di kampung ketimbang merantau di tanah orang. Dengan tabungan miliknya, Asep membuka usaha pertanian dan jasa pariwisata di kampung halamannya.

Di awal, ia memilih buah Pepino. Namun, pepino tak cukup kuat menghadapi ganasnya musim kemarau di Sukabumi selatan. Tak berjalan ideal, sekitar tahun 2015, Asep melirik hanjeli. Dari berbagai literatur yang ia baca, hanjeli lebih tangguh saat kemarau. Tanaman ini juga bernilai ekonomi tinggi jika ditanam dengan benar. Hanjeli bahkan sangat bergizi untuk tubuh.

“Hanjeli bisa jadi alternatif pengganti beras sebagai makanan pokok. Tidak perlu makan sebanyak nasi, segenggam hanjeli sudah mengenyangkan. Kandungan proteinnya di atas beras, lebih dari 13 persen,” ujarnya.

Ubah pandangan
Dua tahun berjalan, Asep merasakan untung berbisnis hanjeli. Keuntungan menanam dan menjual hanjeli bisa mencapai Rp 3 juta per bulan. Jumlah itu enam kali lipat lebih besar ketimbang pepino.

Akan tetapi, saat bersamaan, dia melihat warga di kampung halamannya masih belum berkembang. Lelaki di sana berkutat menambang emas ilegal. Sedangkan perempuan jadi pemukul bongkahan batuan tambang. Akibatnya, lahan pertanian jadi tidak terurus.

Pilihan bekerja di luar negeri juga masih kerap sulit ditolak warga meski resikonya sangat besar. Asep pernah merasakannya. Meski tak pernah mengalami perlakuan buruk selama di negeri orang, Asep mendengar ada pekerja migran yang disiksa atau dilecehkan. Bagi dia, semuanya tak perlu terjadi bila potensi di sekitar rumah bisa jadi penopang hidup warga.

Akan tetapi, tak mudah mengubah pola pikir masyarakat. Pertemuan dengan penambang lelaki sulit dilakukan. Mereka bisa berhari-hari di lubang galian. Di kampung, tersisa ibu-ibu yang menunggu bongkahan batu sambil mengurus lahan padi huma.

Asep pun mulai melakukan sejumlah pendekatan pada tahun 2017. Hanjeli mulai diperkenalkan pada warga, dari pola tanam hingga harga jual. Asep berani menawar gabah hanjeli Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram. Nominal itu lebih mahal ketimbang padi huma, Rp 3.000–Rp 3.500 per kg. Padahal, kedua komoditas pangan itu punya waktu panen sama, enam bulan sebelum dipanen.

Tawaran itu jelas menggiurkan. Ibu-ibu mau mencoba menanam. Awalnya, persentasenya penamannya 90 persen padi dan 10 persen sisanya adalah hanjeli. Perlahan, karena menguntungkan, ada lahan warga yang ditanam 50 persen padi dan 50 persen hanjeli. Kini, lebih dari 40 warga yang konsisten membudidayakan tanaman pangan tersebut. Luasnya bervariasi, antara 400 meter persegi hingga 5.000 meter persegi.

Dengan jumlah petani sebanyak itu, Asep yakin panen kali ini akan melimpah, mencapai 10 ton, dengan rata-rata panen setiap warga lebih dari 100 kg. Hampir seluruh hasil panen hanjeli di desa ini dibeli Asep. Dalam sebulan, Asep memperkirakan rata-rata warga bisa mendapat Rp 1 juta dari menanam hanjeli.

Satu pak hanjeli kemasan 250 gram, dijual Rp 10.000 per buah. Dalam sebulan, bisa laku 300- 500 kemasan. Sebagian hasil panen dijual dan sebagian lainnya dijadikan pangan olahan dengan sasaran konsumen Bandung dan Jakarta. Pembelian secara daring juga dilakukan.

“Warga sudah melihat nilai ekonomi hanjeli. Mereka tidak ragu menanam separuh lahannya untuk Hanjeli. Kalau warga mau menanam satu hektar lahannya untuk hanjeli, mereka mungkin bisa mendapatkan lebih dari 20 juta per sekali panen,” tuturnya.

Tidak hanya di lahan pertanian, warga juga menanam hanjeli di pekarangan rumahnya. Di awal tahun 2018, Asep mengajak warga memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk ditanam hanjeli dan berbagai sayuran lainnya. Dalam bahasa Sunda, pekarangan rumah biasa disebut pipir imah.

“Konsep ini dinamakan Pirus (pipir imah diurus). Jadi, pekarangan warga tidak dibiarkan kosong. Semua sayuran dan buah ditanam. Ada yang menggunakan metode hidroponik tapi kebanyakan menggunakan polybag untuk benihnya,” tuturnya.

Berkat Pirus, setiap rumah memiliki sumber pangan dan gizi yang cukup sehingga tidak perlu bergantung kepada pasar. Tidak hanya hanjeli, di pekarangan rumah warga terlihat pohon tomat, cabe, kangkong, dan banyak sayuran lainnya.

Desa wisata
Geliat masyarakat dalam budidaya hanjeli ini menambah keunikan Desa Waluran Mandiri. Asep melihat potensi pariwisata. Tidak semua desa wisata menerapkan pola menanam hanjeli. Potensi ini semakin tinggi dengan masuknya desa ke dalam kawasan Geopark Ciletuh.

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY—Air terjun Sodong, Kawasan Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat. Di salah satu sudut Geopark Ciletuh, Asep Hidayat dan warga membentuk desa wisata berbasis hanjeli bernama Desa Waluran Mandiri.

Sebagai konsultan untuk pembangunan destinasi wisata di Sukabumi, Asep tahu betul apa yang bisa diberikan untuk Geopark. Dia menjelaskan, dalam geopark setidaknya ada tiga aspek yang dilihat, yaitu aspek keragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity) dan kultur (cultural diversity).

“Konsep pertanian yang kami usung masuk ke dalam syarat-syarat tersebut. Karena itu, dibukanya Geopark Ciletuh menjadi kesempatan bagi kami dalam menerapkan desa wisata,” ujarnya.

Sekitar tahun 2017, Asep bersama warga desa menjadikan Kampung Waluran 2 sebagai Desa Wisata Hanjeli. Wisatawan diberikan edukasi terkait manfaat hanjeli dan diajak mengolahnya bersama-sama, mulai dari olahan pangan sampai cinderamata seperti manik-manik dari hanjeli. Paket wisata pun bermacam-macam, bahkan mereka juga menyediakan paket homestay untuk wisatawan.

Kesejahteraan penduduk desa pun semakin bertambah. Dari kunjungan wisatawan, penduduk desa mendapatkan tambahan penghasilan ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan tergantung kontribusinya. “Biasanya warga berpenghasilan rata-rata Rp 300.000- Rp 500.000 per bulan, sekarang bisa lebih dari Rp 1 juta. Apalagi kalau ada warga yang rumahya dijadikan tempat menginap,” ujar Asep.

Perubahan demi perubahan ini membuat warga desa menjadi mandiri. untuk meningkatkan literasi warga, Asep dan warga lainnya membangun satu rumah baca. Di dalamnya terdapat beberapa buku bacaan ringan dan pelajaran bagi anak-anak di desa tersebut.

Menurut Asep, meski pariwisata menjadi andalan, warga tidak serta merta bergantung pada kunjungan wisata. Bagi mereka, semua yang ada di desa sudah mencukupi kebutuhan hidup. “Kecuali bumbu dapur seperti garam, penyedap rasa dan gula, karena di sini tidak ada pabriknya,” tuturnya sambil tertawa.

Sejauh ini, kemandirian itu tumbuh subur. Saat pandemi Covid-19 berlangsung, warga setidaknya belum merasakan kekurangan. Saat pariwisata tak ramai, mereka memanfaatkan semua yang ditanam di sekitar rumahnya.

Masyarakat Waluran menghargai alam dengan memberdayakan semaksimal mungkin. Tidak ada lahan yang terbengkalai, semua dirawat dan ditanam dengan hijau. Diawali dengan hanjeli, Waluran 2 menjadi kampung yang berseri. Bagi Asep, semua itu dilakukan untuk membentuk warga berdikari.

Asep Hidayat Mustopa
Lahir: Sukabumi, 1 Desember 1987
Pendidikan terakhir: STAI Syamsul Ulum Sukabumi (lulus 2012)

Aktivitas :
Pendiri Desa Wisata Hanjeli (2017-sekarang)
Pendiri Hayu Ka Sukabumi (2016-sekarang)
Pendiri Grup Wisata Alam Sukabumi (2010-sekarang)

Oleh MACHRADIN WAHYUDI RITONGA

Editor: CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Sumber: Kompas, 23 April 2020

more recommended stories