Alpiadi Prawiraningrat Mengangkat Martabat Pariwisata Purwakarta

Sosok Alpiadi Prawiraningrat atau yang kerap disapa Adi (26) mulai jadi buah bibir di kalangan anak muda Purwakarta. Kiprahnya mempromosikan wisata dan kuliner lokal diapresiasi.

Usai acara Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta, Sabtu (2/11/2019), Adi antusias bicara soal ragam potensi wisata Purwakarta. Sorot matanya berapi-api menjelaskan banyak hal.

Ingatannya kembali pada kenangan empat tahun lalu saat mendirikan komunitas dan platform bernama Urang Purwakarta. Komunitas ini bertujuan untuk mengajak kaum muda berbagi informasi tentang potensi wisata, kuliner, dan hal menarik di Purwakarta melalui media sosial Instagram.

KOMPAS/MELATI MEWANGI–Alpiadi Prawiraningrat mengenalkan potensi pariwisata Purwakarta melalui media soisial sejak tahun 2015.

Konsep awalnya mengumpulkan beberapa teman yang memiliki ketertarikan sama terhadap potensi wisata Purwakarta dan membagikannya ke media sosial. Seiring berjalannya waktu ternyata keberadaan komunitas itu menjadi sorotan dan berdampak bagi warga sekitar.

Salah satu pengalaman kecil kian menyadarkan mereka, saat pertama kali mengunjungi Curug Tilu di Kecamatan Sukasari, Purwakarta, pada Januari 2015. Komunitas Pecinta Alam Sukasari mengajak Adi dan teman-temannya membantu promosi tempat wisata itu.

Kala itu, kondisi curug masih diselimuti hutan lebat dan jalanannya berlumut. Akses jalan menuju lokasi juga masih berupa tanah dan bebatuan. Ia bersama teman-temannya harus terjun ke lapangan untuk mengecek langsung tempat wisata tersebut. Berbekal kamera ponsel, ia dan teman-temannya mengambil foto dari berbagai sudut.

Di sisi jalanan menuju lokasi, Adi melihat sekitar tiga pondok makan yang menjajakan nasi liwet. Dalam masyarakat Sunda, budaya makan bersama dengan tradisi ngaliwet atau menanak nasi dengan rempah-rempah dilengkapi berbagai lauk kerap kali digelar. Sebelum menyantapnya, Adi mengabadikan gambar dari menu yang disajikan.

Menurut Adi, kondisi riil seperti akses ke lokasi, warung makan, dan foto lapangan harus disampaikan detail kepada publik. Bahkan, cerita mitos dan kearifan lokalnya juga harus dijelaskan karena dapat menjadi magnet tersendiri.
Beberapa bulan kemudian, ketika dia kembali lagi ke tempat yang sama, seorang pedagang nasi liwet mengucapkan terima kasih karena warungnya semakin ramai. Adi tak menyangka perannya yang kecil bisa berdampak besar.

“Ujang, haturnuhun pisan (nak, terimakasih sekali). Warung emak jadi ramai setelah ujang makan dan foto di sini. Rumah emak jadi bisa dibangun bagus,” kata Adi menirukan ibu penjual nasi liwet.

Pengalaman lain yang berkesan adalah sebelum pembukaan resmi wisata tubing di Sungai Ngaprak, Kecamatan Wanayasa. Ia mendapat kesempatan pertama untuk percobaan tubing. Namun, naas di tengah perjalanan, kaki kirinya sampai sobek karena tersandung batu.

“Justru menjadi bahan evaluasi bagi pengelola wisata bahwa faktor keselamatan tak boleh dilupakan. Jangan sampai pengunjung lain terluka, cukup berhenti di saya saja,” ucapnya.

Adi tak pernah menyangka bahwa peran komunitasnya dapat berdampak positif bagi anak muda dan warga sekitar. Berkat hal itu, ia semakin bersemangat untuk mengajak kaum muda lainnya agar terlibat di dalamnya.

Lewat akun @urangpurwakarta di Instagram yang memiliki 27.800 pengikut, Adi bersama timnya gencar melakukan promosi pariwisata. Setiap tempat yang dipromosikan diberi beragam informasi, dari mulai lokasi, suasana, sampai spot terbaik untuk berfoto. Begitu pula dengan akun di Facebook yang juga gencar mempromosikan Purwakarta.

Kolaborasi
Adi tak sendirian dalam mengelola Urang Purwakarta. Ia bersama lima belas anak muda lainnya turut melakukan kegiatan sosial untuk kemajuan wisata daerah. Sejumlah program pun lahir dari komunitas ini. Fokus kegiatannya tentu tak jauh-jauh dari wisata.

Program pertama yang digagas adalah berbagi sarung dan mukena (BERSAMA) di masjid tempat wisata. Program ini muncul atas keprihatinan minimnya sarung dan mukena yang tidak memadai saat menunaikan ibadah. “Ini berdasarkan pengalaman yang kerap kami alami. Di sela-sela waktu shalat, kami kebingungan mencari sarung atau mukenanya teu aya (tidak ada),” kata Adi.

Selanjutnya, program lain yang lahir adalah social tourism action responsibility (STAR). Kegiatan ini dilakukan untuk membantu pengelola wisata, yaitu pemberian tempat sampah, kotak P3K, dan papan petunjuk wisata. Lagi, program ini lahir sebagai bentuk kepedulian mereka pada sejumlah lokasi wisata yang masih minim sarana dan prasarana.

Saat di lokasi wisata, mereka juga mengumpulkan sampah ke dalam kantong besar. Tak jarang mereka berteriak-teriak untuk mengingatkan pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan. Sumber dana kegiatan sosial itu mayoritas berasal dari kantong mereka. Urang Purwakarta membuka lebar kesempatan jika ada donatur yang ingin terlibat demi kemajuan wisata.

Adi bersama rekannya, Dian Handayani, mendirikan KLUG, yakni sebuah taman baca berkonsep pariwisata di Kecamatan Pasawahan, Purwakarta. Taman baca ini bertujuan untuk memperkenalkan dunia wisata kepada anak-anak lewat literasi buku. KLUG juga hadir untuk mengedukasi mereka tentang bagaimana menjaga dan melestarikan tempat wisata. Salah satu bentuk edukasi sederhana, yakni mengajarkan anak-anak agar tidak membuang sampah di tempat wisata.

Keseriusannya mengangkat wisata kian mantap pada tahun 2017. Saat itu, Adi bersama dengan ketiga temannya, Jaya Wina (23), Fariz Ramadhan (24), Feby A. Dzuhri (26), menciptakan sebuah aplikasi bernama SAMPURASUN yang bertujuan untuk memudahkan wisatawan saat berkunjung ke Purwakarta. Aplikasi ini menyajikan daftar tempat wisata dan kuliner, info hotel, info komunitas, nomor darurat, hingga saran pengembangan wisata ke depan.

Mereka mendapat bantuan pengembangan dari Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan Purwakarta senilai Rp 50 juta. Saat ini aplikasi tersebut telah diunduh lebih dari 5.000 kali.

Dalam perjalanannya, tak sedikit yang memandang sebelah mata upaya Adi untuk mengangkat wisata di Purwakarta. Banyak suara negatif yang menyudutkan dirinya karena dianggap hanya mencari eksistensi belaka.

Akan tetapi, Adi tak ambil pusing dengan omongan mereka. Hal itu justru kian memacunya untuk tetap berkontribusi dan berbagi inspirasi kepada kaum muda. “Itu menjadi tantangan tersendiri. Semua bisa menjadi viral, tapi tidak semua mampu bertahan secara konsisten untuk menyebarkan konten positif dan bermanfaat,” kata dia.

Sepak terjangnya menyebarkan wisata lewat teknologi mengantarnya sebagai Pemuda Inovatif Purwakarta 2019, Pemuda Pelopor Kabupaten Purwakarta bidang Inovasi Teknologi tahun 2018, dan mendapatkan penghargaan tingkat nasional dari Kementerian Pariwisata Juara Ketiga Promosi Pariwisata Terpopuler 2018.

Adi memiliki segudang mimpi yang belum terwujud, antara lain mengintegrasikan wisata lokal dan teknologi dengan melibatkan anak muda. Menurut dia, potensi wisata alam di setiap kecamatan begitu banyak, tapi belum semua terjamah dan dikenal publik.

Target Adi adalah mengembangkan jaringan promosi antar kecamatan. “Kalau bukan kita (anak muda) yang mengenalkan potensi itu, bisa-bisa Purwakarta jadi terlupakan,” ucap Adi.

Adi pun tak pernah puas dengan pencapaiannya sekarang. Seiring perkembangan zaman, ia ingin agar kaum muda dapat memanfaatkan teknologi untuk berbagi hal positif. Semangatnya untuk mengangkat potensi wisata di Purwakarta masih panjang dan berliku.

Alpiadi Prawiraningrat

Lahir: Purwakarta, 4 April 1993
Pendidikan:
– SMP Negeri 1 Purwakarta (2005-2008)
– SMA Negeri 1 Purwakarta (2008-2011)
– S-1 Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Indonesia (2011-2015)

Oleh MELATI MEWANGI

Editor CORNELIUS HELMY HERLAMBANG, MARIA SUSY BERINDRA

Sumber: Kompas, 7 Desember 2019

more recommended stories