Wisata Berbasis Ekologi untuk Selamatkan Subak

Konversi lahan pertanian mengakibatkan implementasi subak di Bali mulai terdegradasi. Alih profesi pun tak bisa dihindarkan karena pendapatan ekonomi dari sektor pertanian kurang menjanjikan dan minat generasi muda untuk melestarikan kearifan lokal ini semakin berkurang.

Data Badan Pusat Statistik Bali menunjukkan, pada 2013 lahan sawah di Bali masih sekitar 81.165 hektar. Namun, pada 2016, lahan sawah di Bali berkurang menjadi 79.526 hektar. Dari tahun 2013 hingga 2016, di Bali terjadi alih fungsi lahan sawah seluas 1.639 hektar atau 2,02 persen.

Pengurangan lahan pertanian itu juga dibarengi maraknya alih profesi dari bidang pertanian ke pariwisata. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2013 dan tahun 2016, penduduk Bali yang bekerja di bidang pertanian sebanyak 547.750 jiwa dan 506.251 jiwa. Pada tahun yang sama, jumlah penduduk Bali yang bekerja di bidang pariwisata sebesar 616.610 jiwa dan 728.757 jiwa.

“Proses alih fungsi lahan yang terus-menerus ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Perlu ada kebijakan yang bersifat jangka panjang dan jangka pendek untuk menyikapi fenomena ini,” kata Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional I Made Geria saat mempertahankan disertasinya yang berjudul “Model Pengelolaan Subak Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal di Kawasan Sarbagita Bali”, Selasa (20/8/2019), di IPB University, Jawa Barat.

Berdasarkan penelitian Made di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan), di tengah fenomena alih fungsi lahan, budaya subak masih berkembang pada tataran umum. Namun, di perkotaan mulai terjadi pelemahan pada tataran implementasi.

Kebijakan strategi
Sejumlah alternatif kebijakan strategi perlu diterapkan untuk melestarikan peradaban subak di wilayah Sarbagita.

Pelestarian peradaban subak sebagai benteng peradaban Bali, antara lain, dapat dilakukan dengan membuat peraturan daerah yang meringankan pajak lahan sawah untuk memudahkan masyarakat menjaga budaya subak.
Keberadaan awig-awig (aturan adat) juga perlu dikuatkan dan diakui pemerintah daerah. Selain itu, membuat pemetaan jalur hijau yang menjadi dasar untuk mencegah konversi lahan yang berlebihan. Pemetaan jalur hijau ini perlu ditindaklanjuti dengan pembentukan lembaga pemasaran untuk menyosialisasikan pariwisata berbasis pertanian dan budaya.

Pelestarian dapat dilakukan dengan melakukan revitalisasi untuk memaksimalkan peradaban subak di kawasan Sarbagita yang mengalami pelemahan pada tataran implementasi. Pelestarian dapat dilakukan dengan pembuatan regulasi oleh pemerintah daerah dengan menjadikan subak sebagai obyek wisata berbasis ekologi dan budaya (eco culture tourism).

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Prof I Wayan Windia, yang menjadi salah satu penguji, mengatakan, Bali masih eksis dalam mewariskan tradisi pemuliaan air dan peran itu dilakukan oleh subak. Elemen subak meliputi sumber air, petani, sawah, pura, dan otonomi. Subak hanya bisa dilestarikan jika petani sejahtera. (ABK)

Sumber: Kompas, 21 Agustus 2019

more recommended stories