Wisata Halal Menjadi Andalan Baru

Kementerian Pariwisata mengandalkan tiga provinsi untuk mendongkrak kedatangan wisatawan Muslim dunia. Ketiga provinsi itu adalah Aceh, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Barat.

Ketiga provinsi tersebut juga menyabet paling banyak penghargaan dalam ajang Kompe-tisi Pariwisata Halal Nasional. Aceh dan Sumatera Barat masing-masing meraih tiga penghargaan, sedangkan Nusa Tenggara Barat (NTB) meraih empat penghargaan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, ketiga provinsi ini diharapkan bisa menyabet sedikitnya tiga penghargaan wisata halal tingkat dunia. “Aceh dan Sumatera Barat disiapkan sebagai destinasi wisata halal andalan, melengkapi NTB yang sudah lebih dulu diakui dunia karena tahun lalu mendapatkan dua penghargaan World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best Halal Honeymoon Destination,” kata Arief saat memberikan penghargaan Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Arief, mendapatkan penghargaan tingkat dunia sangat penting karena akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). “Lombok sudah mengalaminya. Setelah mendapatkan dua penghargaan dunia itu, tingkat okupansi hotel di Lombok naik menjadi 80 persen,” kata Arief.

Target
Oleh karena itu, Indonesia menetapkan target menjadi destinasi pariwisata halal nomor satu dunia pada 2019. Saat ini posisi Indonesia berada di urutan keempat setelah Malaysia (7 juta turis Muslim), Thailand (4 juta), dan Singapura (3,5 juta). Indonesia baru mendapatkan 2 juta turis Muslim.

Untuk menjadi nomor satu dunia, ada tiga hal yang harus diperhitungkan, yakni pasar dunia, menjadi pemain dunia, dan pemenang dunia. Pasar pariwisata halal dunia saat ini mencapai 150 miliar dollar AS, dengan jumlah pergerakan wisatawan Muslim mencapai 116 juta pada 2014, dan akan menjadi 180 juta pada 2020. Pada 2014, total pengeluaran wisatawan Muslim dunia mencapai 142 miliar dollar AS.

Untuk merebut sebesar mungkin pasar dunia, Indonesia harus menjadi pemain tingkat dunia. Caranya adalah dengan menerapkan standar dunia dalam praktik sehari-hari. Dalam Global Muslim Tourism Index, destinasi wisata halal yang paling baik adalah Malaysia, Uni Emirat Arab, Turki, dan Indonesia.

Sementara itu, anggota Dewan Syariah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muchori Muslim, mengatakan, saat ini MUI sudah menerbitkan Pedoman Pariwisata Halal Indonesia. “Pedoman ini penting untuk diterapkan agar Indonesia bisa menjadi kiblat wisata halal dunia,” kata Muchori.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal 2016 Riyanto Sofyan mengatakan, di ajang Kompetisi Pariwisata Halal Nasional 2016, antusiasme masyarakat semakin besar. “Kami menargetkan yang ikut ada 100 peserta, tetapi ternyata mencapai 117 peserta,” kata Sofyan. (ARN)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Oktober 2016, di halaman 18 dengan judul “Wisata Halal Menjadi Andalan Baru”.