Wisata Alam Dikelola Intensif

Prinsip Konservasi Tetap Diutamakan
Pengembangan wisata alam khususnya di Pulau Jawa yang dikelola Perum Perhutani terus diintensifkan. Hal itu dilakukan untuk mendukung program pariwisata Indonesia 2020. Pengembangan wisata itu tetap mengutamakan prinsip konservasi hutan.

Selama ini, potensi wisata alam dinilai besar. Kunjungan turis pun terus meningkat. Pada tahun 2017 sampai triwulan III, kunjungan wisata ke obyek wisata berbasis alam sudah mencapai 7,3 juta orang.

“Kunjungan itu meningkat 160 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 sehingga menghasilkan pendapatan Rp 90,42 miliar,” ujar Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Mauna saat meluncurkan Canopy di Kawah Putih Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (11/11).

Canopy merupakan identitas baru pengelolaan wisata yang menaungi beragam karakter wisata alam. Di dalam Canopy pengelolaan pariwisata mempunyai jaminan standar produk, pelayanan, serta pengelolaan profesional dan berkualitas.

Proyek perintis Canopy sementara ini dipilih Kawah Putih di Bandung selatan dan Banyu Nget, Trenggalek, Jawa Timur. Ke depan brand baru ini akan menaungi wisata-wisata alam khususnya lokasi wisata yang telah memenuhi unsur-unsur dan indikator dalam standar Canopy.

Lewat pencitraan baru ini, lanjut Denaldy, diharapkan nilai pendapatan Perhutani terus meningkat dengan memperluas kerja sama pemasaran di samping mengintensifkan marketing communication.

Selama ini, kontribusi pengelolaan wisata alam di Perhutani kurang dari 10 persen. Angka itu jauh dibandingkan dengan Swedia dan Finlandia yang berkisar 30-40 persen.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi langkah Perhutani meluncurkan brand Canopy itu. Menurut dia, ini merupakan bentuk dukungan pemerintah untuk pengembangan bisnis wisata alam menuju kinerja pengelolaan wisata yang lebih baik.

“Dari dulu saya berprinsip tidak boleh merusak alam. Sejak dulu sudah memegang teguh prinsip konservasi karena pariwisata adalah urusan pelestarian. Ada banyak contoh konservasi yang membawa rezeki jangka panjang. Justru kalau dirusak, dengan cepat, akan menjadi malapetaka yang tidak mudah diselesaikan,” ungkapnya.

Kaji ulang
Di Jawa Timur, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Ayu Dewi Utami sedang mengkaji kapasitas daya dukung kawasan Ijen. Nantinya hasil kajian itu dijadikan dasar untuk membatasi kunjungan wisatawan ke Ijen. Saat ini, rata-rata wisatawan yang berkunjung ke kawah Ijen 300 orang per hari. Jumlah ini bisa jadi melebihi kapasitas daya dukung kawasan di Ijen.

Saat libur panjang, Ijen bahkan bisa didatangi 1.000-an pengunjung per hari. Sebagian dari mereka mendaki pada malam hari untuk melihat api biru di tepi kawah Ijen. Dari pantauan, banyak pengunjung yang menyisakan sampah di sepanjang jalur pendakian.

Penanganan kondisi darurat di pendakian Ijen juga belum memadai. Padahal, kawasan itu rawan mengeluarkan gas beracun.

Pada hari Minggu (12/11), misalnya, satu pendaki kehilangan nyawa sesaat setelah berhasil sampai puncak dan turun ke kawah Gunung Ijen. Diduga korban tewas akibat menderita asma.

Kepala Seksi Wilayah Banyuwangi BBKSDA Jawa Timur Sumpena mengatakan, saat pingsan, korban segera mendapat pertolongan pertama dan dievakuasi ke posko keberangkatan di Paltuding.

“Selama ini, jika ada kejadian kecelakaan yang menimpa petambang maupun wisatawan, kami melakukan pertolongan pertama di ruang pengelola,” ujarnya.

Sumpena menambahkan, fasilitas kesehatan di Ijen hingga kini masih dibangun.

Ketua Pos Pemantauan Gunung Api Ijen Bambang Heri Purwanto mengatakan, pada Sabtu (11/11) hingga Minggu tidak ada peningkatan aktivitas vulkanik di Gunung Ijen. Kendati tidak ada peningkatan gas sulfatara, kondisi gas sulfatara di kawah Ijen memang berada di atas ambang batas. Karena itulah, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi tidak pernah merekomendasikan pendaki untuk turun ke dasar kawah.(DMU/GER)

Sumber: Kompas, 13 November 2017