Pariwisata Terancam Stagnan

Konektivitas Belum Menjamin Daerah Berkembang
Pengembangan pariwisata oleh pemerintah pusat bisa tak berkelanjutan jika semua pemerintah daerah dan pelaku setempat tidak melakukan inovasi. Konektivitas yang telah dibangun pemerintah, kenyataannya, tidak otomatis mengembangkan pariwisata setempat.

Selama dua pekan lalu hingga Minggu (12/3), Kompas mendatangi sejumlah tempat wisata di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Hal itu untuk melihat pengembangan pariwisata setelah pemerintah membangun fasilitas konektivitas, seperti bandara, pelabuhan, dan jalan raya, termasuk pembukaan penerbangan langsung dari beberapa kota di China ke Manado, Sulawesi Utara.

Hanya beberapa daerah yang berhasil mengembangkan wisata karena pemerintah setempat dan pelaku wisata bekerja keras mengembangkan potensi yang ada.

Padahal, pemerintah menargetkan pada 2019 jumlah wisatawan asing meningkat menjadi 20 juta orang dari 12 juta pada tahun ini.

Tidak siap
Siang itu, dua rombongan wisatawan China tampak pergi ke Pulau Bunaken dan satu rombongan lain belajar menyelam untuk mendapatkan sertifikat. Salah satu rombongan yang terdiri atas delapan wisatawan China berangkat menyelam.

Pemandangan seperti ini merupakan pemandangan yang lazim di Sulawesi Utara sejak delapan bulan lalu ketika penerbangan langsung dibuka. Sejak Juli lalu, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Manado bertambah. Kini, jumlah penerbangan dari China menjadi 12 kali seminggu dan akan bertambah. Dalam dua bulan pertama 2017, ada 13.000 wisatawan China yang mengunjungi Manado.

Zhang Sutang, wisatawan yang datang dari Guangzhou, mengatakan tertarik karena melihat gambar-gambar yang ditawarkan oleh biro perjalanan wisata.

Kedatangan wisatawan China yang tergolong tiba-tiba dalam jumlah banyak itu ternyata membuat pengelola harus bersiap. Mereka tidak siap dengan pemandu wisata. Di samping itu, infrastruktur lain masih harus ditambah, seperti kamar hotel, kapal, dan informasi wisata.

Untuk memenuhi kebutuhan pemandu wisata yang dapat berbahasa Mandarin, Manado Maju Travel, salah satu agen perjalanan, terpaksa mendatangkan pemandu dari Bali dan Batam.

Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Pariwisata Dino Gobel mengatakan, jika wisatawan mengambil paket 4 hari 5 malam, akan ada 3.000 wisatawan yang tinggal bersamaan. Kapasitas kamar hotel pun harus ditambah. Ia juga mengakui, potensi wisatanya masih harus dibangun untuk memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat. Penduduk perlu mulai diajak menyadari bahwa pariwisata dapat menghidupi mereka.

Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, telah memiliki bandara dengan penerbangan dari Wakatobi ke Kendari dan Makassar atau sebaliknya. Meski demikian, ketersediaan hotel masih kurang, belum lagi soal suvenir, rumah makan, hingga aktivitas lain yang belum banyak pilihan. Konektivitas antarpulau juga belum lancar. Pada musim tertentu, beberapa pantai terlihat kotor akibat sampah.

Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat Oni Yulfian juga mengakui, secara atraksi atau obyek wisata, potensi Sumbar sangat besar. Sayangnya, masih ada persoalan terkait aksesibilitas dan kenyamanan yang harus menjadi perhatian.

“Aksesibilitas menyangkut infrastruktur untuk mencapai lokasi wisata yang ada. Sementara kenyamanan menyangkut akomodasi, seperti hotel dan resor,” kata Oni.

Provinsi Sumbar mempunyai peluang besar untuk menjadi kekuatan baru pariwisata Indonesia. Provinsi tersebut memiliki potensi pariwisata yang lengkap.

Persoalan lain menyangkut ketersediaan hotel dan resor karena masih sulitnya investor menanamkan modal di Sumbar. Menurut Oni, khusus Sumbar, pertimbangan investor sering kali persoalan tanah yang merupakan wilayah ulayat.

Pengembangan pariwisata bahari di Kota Jayapura juga terkendala. Kesadaran masyarakat pemilik hak ulayat dan keseriusan pemerintah setempat menjadi penyebab. Tiga wisata pantai yang terkenal, yakni Pantai Hamadi, Pantai Base G, dan Pantai Holtekamp, tak bisa dikembangkan karena masalah itu. Fasilitas penunjang, seperti penginapan dan hotel, di tempat tersebut juga belum ada.

Pembukaan Bandara Silangit di Siborong-borong, Tarutung, Tapanuli Utara, mulai berdampak terhadap pariwisata Danau Toba. Pelaku wisata dan otoritas setempat merasakan hal itu, tetapi belum berdampak terhadap masyarakat kebanyakan. Setiap hari, ada empat penerbangan di Bandara Silangit. “Terasa banyak tamu datang,” kata pelaku wisata di Balige, Toba Samosir, Sebastian Hutabarat.

Daerah yang sukses
Meski demikian, ada daerah yang terbilang sukses. Banyuwangi di Jawa Timur, salah satunya. Dalam beberapa tahun terakhir, Banyuwangi semakin diminati wisatawan. April nanti akan ada penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi M Yanuarto Bramuda, upaya mengubah citra Banyuwangi dimulai sejak 2010 oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Saat itu, destinasi wisata Banyuwangi kurang dari 10 destinasi. Pada 2016 setidaknya ada 50 destinasi wisata baru, antara lain Pantai Cemara, Teluk Ijo, Grand Watu Dodol, dan Pendopo Sabha Swagata Blambangan.

Jumlah wisatawan mancanegara naik dari 7.000 orang pada 2010 menjadi 77.000 orang pada 2016. Adapun wisatawan Nusantara meningkat dari 600.000 orang pada 2010 menjadi 3,2 juta orang pada 2016. Jumlah rumah singgah pun naik dari 5 rumah singgah pada 2010 menjadi 300 rumah singgah pada 2016.

Di Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, masyarakat juga mulai memahami keberadaan pariwisata. Masyarakat, dengan upaya sendiri, menambah daya pikat pariwisata melalui berbagai tawaran kegiatan dan cendera mata bagi wisatawan.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia Bangka Belitung Agus Pahlevi menyebutkan, masyarakat terpanggil ikut serta terlibat dalam kegiatan pariwisata. “Kami usahakan mendampingi agar kue pariwisata bisa dimanfaatkan dengan baik dan berkualitas,” kata Agus.(ZAK/GER/AHA/HRS/WSI/FLO/JOE/ZAL/IDR/MAR)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Maret 2017, di halaman 1 dengan judul “Pariwisata Terancam Stagnan”.