Pariwisata Indonesia Menguat di Pasar Asia Pasifik

HARUS diakui, Asia-Pasifik merupakan kawasan dengan pertumbuhan paling dinamis saat ini. Dalam lima tahun terakhir, jumlah wisatawan dunia yang berkunjung ke kawasan ini naik 75 persen, sementara perolehan devisanya naik 85 persen.

Meski terdapat beberapa variasi tajam –beberapa tujuan wisata mulai berkembang, beberapa lagi telah matang dan lainnya memudar– namun penampilan Indonesia amat gemilang. Negeri dengan keragaman budaya yang semula tidak diperhitungkan dalam kancah pariwisata dunia, mulai memperlihatkan potensinya dan tampil sebagai kompetitor utama di kawasan ini.

Pertumbuhan pariwisata Indonesia memang tak bisa lagi dilihat dengan sebelah mata. Kenyataan yang berlangsung setidaknya dalam 10 tahun terakhir ini memperlihatkan, dari segi pendapatan negara sektor ini menjadi “penyelamat”, ketika perolehan devisa dari sektor lain mandek atau menurun.

Pameo “Sekali melangkah maju, tak ada kata mundur” berlaku dalam perkembangan pariwisata Indgnesia. Posisi Indonesia dalam pasar pariwisata dunia semakin diperhitungkan. Bahkan menurut berbagai proyeksi, posisi Indonesia akan menguat pada awal abad ke-21 dengan, menjadi salah satu kawasan tujuan utama wisata dunia. Meski begitu, pada tahun 2000 itu Indonesia masih belum menjadi pemain utama dalam industri pariwisata dunia.

Menurut proyeksi Organisasi Pariwisata Dunia (WTO), jumlah wisatawan dunia tahun 2000 itu akan mencapai 661 juta. Sekitar 15,28 persen atau 101 juta di antaranya akan mengunjungi kawasan Asia-Pasifik.

PADA Pelita VII (1998/1999-2003/2004), Pemerintah Indonesia memancang target 8,3 juta wisatawan mancanegara (wisman), dengan jumlah devisa sekitar 15 milyar dollar AS, peringkat pertama perolehan devisa dari sektor nonmigas.

Kalau dilihat dari jumlah seluruh wisatawan dunia, target itu hanya mencakup 1,25 persennya saja.

Toh pertumbuhannya tidak mengecewakan. Dari 550 juta wisatawan dunia tahun 1994 dengan lebih 340 milyar dollar pengeluaran (tidak termasuk biaya penerbangan), 77 juta di antaranya (atau serkitar 14 persen) mengunjungi kawasan Asia-Pasifik, dan Indonesia menerima lebih empat juta atau 0,7 persen dari jumlah wisatawan dunia. Lima tahun sebelumnya, persentasenya baru mencapai 0,4. Untuk perbandingan, pada tahun 1994 kawasan tujuan utama nomor satu di dunia, Spanyol menjaring delapan persen wisatawan dunia, dan kawasan utama tujuan wisata di kawasan Asia-Pasifik, Hongkong, hanya memperoleh kurang seperempat dari persentase Spanyol di pasar pariwisata dunia.

Pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia cukup mengesankan. Kalau pada awal pelita IV (1984), jumlah wisman baru 700.910 dengan jumlah devisa 519,7 juta dollar, pada tahun 1994 angka itu sudah berlipat menjadi sekitar empat juta orang, dengan devisa 4,6 milyar dollar. Ini berarti jumlah wisman dalam 10 tahun meningkat sebesar 570 persen, sementara jumlah perolehan devisa naik 885 persen.

Dalam jumlah wisman, sampai saat ini Indonesia memang belum bisa mengalahkan ”pesaing terdekatnya”, Singapura, Thailand dan Malaysia, namun dari kriteria lama tinggal, ketiga negara itu harus mengakui kemampuan Indonesia menahan wisman untuk tinggal sampai rata-rata 12 hari.

AGAK berbeda dengan proyeksi WTO, hasil penelitian The Economist Intelligence Unit’s Research (EIU) yang dituangkan dalam Asia-Pacific Travel Forecast to 2005 menyatakan, jumlah wisatawan dunia tahun 2000 sekitar 620 juta, lalu naik lagi menjadi 750 juta tahun 2005.

Sampai tahun 2000 itu, Eropa tetap merupakan pasar terbesar, diikuti AS. Pertumbuhan di seluruh kawasan Asia-Pasifik tetap paling tinggi, mencapai sekitar tujuh persen. Sampai akhir tahun 1990-an, jumlah perjalanan internasional naik menjadi 8,5 persen dari sekitar tujuh persen pada akhir tahun 1980-an.

Meski begitu, laporan ini mengingatkan, tingkat pertumbuhan ke kawasan ini terancam turun. Antara tahun 1985-1993, jumlah kedatangan wisatawan internasional ke kawasan ini rata-rata per tahun adalah 10,5 persen. Antara tahun 1993-2000, turun menjadi 7,8 persen, lalu 6,3 persen antara tahun 2000 dan 2005.

Perjalanan dari Hongkong ke Cina dan Macau tidak dimasukkan dalam kategori ”wisatawan” dalam arti sebenarnya, karena penduduk yang melakukan perjalanan dari dan ke wilayah itu lebih berhubungan dengan masalah pekerjaan. Pertumbuhan yang menurun ini tak bisa dihindari, karena menaikkan tingkat pertumbuhan dari tingkat yang sudah tinggi jauh lebih sulit dibandingkan menaikkannya dari tingkat pertumbuhan absolut rendah.

Antara tahun 1993-2000, jumlah lama tinggal (dihitung dengan malam, diasumsikan menginap) wisatawan ke kawasan ini naik dari 408 juta menjadi hampir satu milyar tahun 2005. Dalam hitungan yang lebih komprehensif, berarti setiap tahun rata-rata terdapat 45 juta tambahan lama tinggal dan ekstra 60 juta antara tahun 2000-2005. Sebagai catatan, antara tahun 1985-1993 terdapat 29 juta ekstra. Implikasinya adalah kebutuhan akan tambahan kapasitas investasi, seperti infraistruktur, kursi pesawat dan kamar hotel. Kapasitas akomodasi misalnya, diperkirakan tambahan sekitar 1,2 juta kamar hotel di kawasan Asia-Pasifik pada tahuh 2005. Dengan kata lain, harus ada tambahan sekitar 98.000 kamar setiap tahun.

Pada tahun 2005 itu diperkirakan Australia berada di posisi pertama, dengan kebutuhan tambahan kamar 22.000 per tahun, disusul Indonesia dan Hongkong, masing-masing 12.000 dan 11.000, kemudian Jepang dan Thailand, masing-masing 9.000.

SEBAGIAN besar wisman di kawasan Asia-Pasifik berasal dari kawasan itu sendiri. Pada tahun 1993 misalnya, 63 persen wisman merupakan wisatawan intra-kawasan. EIU memproyeksikan, persentase ini tak akan berubah banyak 10 tahun ke depan, namun tetap merupakan yang terbesar dalam segi jumlah, dari 37 juta pada tahun 1993 mgnjadi 64 juta tahun 2000 dan 81 juta tahun 2005.

Jepang merupakan pasar penting di kawasan ini. Pada tahun 1993 diperkirakan hampir 11 juta wisman asal Jepang. Jumlah ini menjadi sekitar 21 juta pada tahun 2005. Wisman asal Jepang akan mencapai lebih seperempat jumlah wisman intra-kawasan. Posisi berikutnya dipegang oleh Taiwan, Singapura dan Korea Selatan.

Dari tingkat pertumbuhan, Korsel merupakan pasar potensial dengan sekitar 2,5 juta wisatawan tahun 1993 menjadi sekitar 8,2 juta tahun 2005. Jumlah wisman asal Taiwan yang tumbuh sekitar 170 persen dalam 12 tahun akan mencapai 17 juta pada tahun 2005. Pasar jarak jauh ke kawasan ini adalah AS, diikuti Eropa dan Jerman. Dari segi lama menginap di kawasan ini, wisman asal Indonesia merupakan pasar yang tumbuh paling cepat, diikuti Korsel dan Thailand. Pertumbuhan rata-rata diproyeksikan berasal dari Hongkong, Singapura, Italia dan Inggris.

Dari pola berwisata, pertumbuhan utama jenis perjalanan ke kawasan Asia-Pasifik adalah wisata liburan, khususnya wisata pantai, di mana pembagian dari jumlah wismannya naik dari 59 persen pada tahun 1993 menjadi 66 persen pada tahun 2005. Kunjungan kepada keluarga dan kerabat, serta bisnis, akan berkurang.

Dikemukakan pula, pola pariwisata massal akan berubah akan berkurang. Dikemukakan pula, pola pariwisata massal akan berubah menjadi lebih khusus, dengan produk-produk yang khusus pula, seperti eco-tourism dan cultural tourism.

Lama tinggal rata-rata ke kawasan ini sedikit meningkat pada dekade mendatang, dari 7,11 malam pada tahun 1993 menjadi 7,7 tahun 2005. Akan terdapat kenaikan yang berarti ke beberapa tujuan wisata untuk wisman di dalam kawasan Asia-Pasifik, khususnya Jepang.

TUJUAN wisata utama di Asia-Pasifik pada tahun 1993 adalah Hongkong, atau 11,3 persen dari jumlah seluruh wisman, yang berkunjung ke kawasan ini (11,7 persen), menyusul Malaysia (10,6 persen) dan Cina (9,9 persen), kemudian Thailand dan Singapura, masing-masing 9,4 persen. Di belakangnya, Jepang (6,1 persen) dan Indonesia pada posisi ke tujuh dengan 5,5 persen. Pada tahun 2000, Cina akan mengambil alih posisi Hongkong dengan pangsa 12,3 persen dan Hongkong pada posisi kedua. Thailand, Singapura dan Malaysia pada posisi dua, tiga dan empat. Indonesia naik ke posisi keenam dengan 7, 8 persen.

Cina dan Hongkong tetap berada pada posisi atas lima tahun kemudian dengan dengan 12,6 persen dan 11,3 persen. Thailand tetap berada pada posisi ketiga dengan 9,2 persen, meski tingkat pertumbuhannya akan menurun tajam. Indonesia berada pada posisi keempat dengan 8,5 persen, di atas Malaysia.

Dari kriteria lama tinggal yang mungkin lebih akurat untuk merefleksikan pembangunan pariwisata –gambarannya tampak berbeda-beda. Hanya ada empat tujuan wisata di Asia-Pasifik yang berperan besar dalam pembagian pasar, yakni Australia, Cina, Selandia Baru dan Indonesia. Dengan begitu, tujuan wisata utama dalam kriteria lama menginap pada tahun 2005 adalah Australia dan Indonesia. Australia akan memimpin dengan jumlah lama tinggal hampir dua kali Indonesia, Namun Indonesia akan mengalami pertumbuhan lebih cepat dan melompat dari posisi keempat menuju ke posisi kedua dalam 12 tahun, dari di bawah sembilan persen menjadi lebih 11 persen.

Pembagian pasar dari kriteria jumlah wisatawan akan meningkat di Jepang, Korsel, Selandia Baru, Malaysia, Filipina dan Singapura, namun pertumbuhan dari kriteria lama tinggal tidak terlalu menggembirakan.

Laporan itu juga mengingatkan kebutuhan akan infrastruktur dan sumber daya manusia untuk mengantisipasi pertumbuhan yang bakal terjadi, di samping efisiensi. Penanganannya pun harus hati-hati, agar terjadi pertumbuhan pembangunan yang berkelanjutan. Pariwisata diakui, amat potensial untuk menghasilkan uang kalau dikelola secara cermat dan peka. Sektor ini seperti tidak terpengaruh oleh berbagai peristiwa di dunia dan terus tumbuh dalam situasi apa pun. Namun banyak pula persoalan yang tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan pariwisata, seperti isu perlindungan lingkungan, kebudayaan lokal dan isu tanah milik rakyat kecil, di samping AIDS. Pengelolaan yang sembarangan akan menghancurkan, karena insentif ekonomi yang didapat bukan mustahil akan habis untuk memperbaiki kerusakan, atau biaya lain yang disebabkan oleh epidemi penyakit. Dengan begitu, pengembangan pariwisata tak cuma butuh investasi modal, tapi juga kebijakan yang lebih melibatkan empati dan emosi, agar tidak menempatkan faktor ekonomi di atas segalanya. (we/ody/mh)

Sumber: Kompas, 13 JANUARI 1996