Investasi Masyarakat Berkembang

Masyarakat berinvestasi secara mandiri untuk mengembangkan obyek wisata alternatif di daerah. Investasi dilakukan agar kawasan wisata semakin menarik dan bisa menggaet lebih banyak wisatawan. Keterlibatan warga sekitar juga berhasil mendorong perekonomian secara berkelanjutan karena masyarakat memiliki sumber penghasilan lain di luar ekonomi berbasis pertanian. Fenomena itu terekam dalam interaksi Kompas dengan warga dan pengelola obyek wisata di sejumlah daerah selama sepekan terakhir hingga Senin (5/12).

Di obyek wisata Watu Lawang dan Bukit Panguk Kediwung, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogakarta, investasi mencapai Rp 100 juta. Dana investasi berasal dari warga RT 011 Desa Mangunan.

Adapun dana investasi Wisata Alam Kalibiru, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, diperoleh dari sejumlah sumber. Ketua Pengelola Kalibiru Sudadi mengatakan, selain dari pemasukan obyek wisata, dana juga berasal dari bantuan pemerintah. Di obyek wisata Umbul Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, ada lebih dari 100 keluarga yang menanamkan modal rata-rata Rp 5 juta per orang untuk pengembangan obyek wisata. Namun, ada juga warga yang menanamkan modal hingga Rp 25 juta.

Investasi untuk Umbul Ponggok, obyek wisata air tawar, sekitar Rp 4,5 miliar selama lima tahun terakhir. Selain dari investasi warga, dana juga diperoleh dari pendapatan badan usaha milik desa Tirta Mandiri yang mengelola Umbul Ponggok dan Pemerintah Desa Ponggok.

Di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, warga juga berinvestasi untuk mengembangkan pantai dan obyek wisata bawah air di Bangsring, Wisata kebun kopi dan peternakan kambing etawa di Gombengsari, serta wisata alam hutan pinus di Sumberbulu.

Wakil Ketua Kelompok Samudera Bhakti Sukirno mengatakan, investasi awal pengembangan Bangsring hanya Rp 1,5 juta dari dua pengurus untuk membeli 10 peralatan snorkeling. Tarif sewa alat snorkeling diturunkan dari Rp 30.000 menjadi Rp 25.000 per jam agar pengunjung tertarik menyewa.

7ae66914c88045be82e43c0472091cf6Petani Kopi Rejo di Dusun Lerek, Gombengsari, memulai pengembangan paket wisata dengan modal kurang dari Rp 1 juta. Sementara, warga Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, berinvestasi Rp 3 juta untuk mengubah kawasan hutan pinus milik Perum Perhutani menjadi tempat wisata swafoto dan arung jeram. Dana itu digunakan untuk membangun dua rumah pohon. Pengelola Wisata Hutan Pinus Songgon, Yusuf Sugiono, mengatakan, tempat wisata itu baru dikenalkan pada Oktober lalu. Kini pengunjung mencapai 200-300 orang per hari.

Sumber penghasilan
Sekretaris Desa Ponggok Yani Setiadi menuturkan, investasi warga itu kini sudah menghasilkan dan menjadi sumber pemasukan warga. ”Masyarakat menerima hasil investasi rata-rata Rp 500.000 per bulan,” kata Setiadi.

Tenaga kerja yang terlibat di obyek wisata Umbul Ponggok mencapai 35 orang yang merupakan warga sekitar. Di Kalibiru, saat ini ada 237 warga yang terlibat dalam pengelolaan obyek wisata, termasuk, petugas parkir, pemilik warung makan, dan petugas pengawas jalan.

Dari 237 warga yang terlibat dalam pengeloiaan Kalibiru, 63 orang berstatus sebagai karyawan yang mendapatkan gaji tetap setiap bulan, tunjangan lembur, dan uang makan. Jumlah penghasilan karyawan Kalibiru bervariasi.

Pemandu tempat foto mendapatkan upah sekitar Rp 2 juta per bulan dan pengawas jalan yang berstatus sebagai pekerja lepas mendapat upah sekitar Rp 1 juta per bulan. Sebagai pembanding, upah minimum Kabupaten Kulon Progo tahun ini adalah Rp 1,268 juta.

Di Mangunan, pemasukan ke obyek Wisata/dari parkir, toilet, dan bayaran sukarela pengunjung yang berfoto mencapai Rp 17 juta per bulan. Jumlah tersebut belum termasuk pendapatan warga yang mengelola 10 warung. (AHA/LAS/NIT/RWN/EGI/HBS/DIM)

Sumber: Kompas, 6 Desember 2016