Daya Tarik Destinasi Berperan Penting

Persepsi Pengaruhi Pariwisata
Kemajuan pariwisata sangat ditentukan oleh daya tarik, akses, dan fasilitas pendukung. Dari ketiga faktor itu, daya tarik destinasi memegang peranan penting. Untuk itu, pemerintah hendaknya memprioritaskan daya tarik untuk mendorong pariwisata yang berkelanjutan.

Daya tarik tidak hanya terkait dengan destinasi alam, tetapi juga bisa atraksi budaya. Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Azril Azahari menuturkan, Nihiwatu Resort di Pulau Sumba bisa menjadi contoh dan menerangkan logika pengelolaan pariwisata ini. “Nihiwatu Resort menjadi resor terbaik dunia. Padahal, akses ke sana susah dan masih jelek. Nihiwatu menjadi juara karena daya tariknya yang kuat,” kata Azril, Senin (13/3), di Jakarta.

Resor tersebut memadukan kenyamanan hotel dengan wisata berbasis panorama alam, kearifan lokal, dan wisata bawah laut. “Jika daya tariknya sangat kuat, destinasi itu didatangi oleh wisatawan. Jika ingin mendatangkan wisatawan lebih banyak lagi, barulah dipermudah akses dan fasilitasnya,” ujar Azril.

Dosen kebijakan publik kontemporer di Universitas Indonesia, Sapta Nirwandar, berpendapat, pemerintah daerah mempunyai kekuatan mengelola lokasi destinasi. Sejumlah pemerintah daerah sudah memiliki kepedulian membangun ekosistem industri pariwisata.

Pemerintah pusat dapat ikut terlibat dalam mempromosikan agenda wisata di daerah. Jika agenda kegiatannya berskala besar dan maju, pemerintah bisa menjadikannya sebagai agenda nasional atau internasional, seperti Tour de Singkarak dan Festival Danau Sentani.

“Pencitraan destinasi wisata sebuah daerah itu keharusan. Tujuannya agar daerah mempunyai rasa memiliki dan mengelola destinasi tersebut,” ujar Sapta.

Bergantung persepsi
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menilai, pengembangan sektor pariwisata di daerah sangat bergantung pada wawasan, kompetensi, dan kreativitas kepala daerah. Sangat disayangkan jika kreativitas kepala daerah lebih sedikit dibandingkan dengan kreativitas masyarakat. “Ada masyarakat yang justru kreatif membuat kawasan wisata lebih menarik,” katanya.

Hariyadi mengingatkan, pariwisata sangat terkait dengan persepsi (image). Jika persepsi jelek, orang enggan untuk kembali berkunjung ke suatu destinasi wisata. Pemerintah daerah perlu menjaga dan melestarikan kawasan wisata yang sudah bagus dan indah.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau Buralimar menuturkan, pariwisata di Riau lebih banyak dilakukan pemerintah daerah dan swasta, termasuk sarana pendukungnya, seperti hotel dan restoran. Tujuan wisatawan masih ke Batam, Bintan, dan Tanjung Pinang.

“Peran pemerintah pusat sangat diharapkan, terutama untuk mengembangkan infrastruktur transportasi ke destinasi baru Natuna-Anambas-Lingga,” kata Buralimar.

Sementara itu, wisatawan yang mengunjungi Bali, dilihat dari asal negaranya, mengalami pergeseran jumlah. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali menunjukkan, jumlah wisatawan asal China yang datang ke Bali melalui bandara dan pelabuhan pada Januari 2017 tercatat 147.928 orang, melebihi jumlah wisatawan asing asal Australia 91.515 orang. Selama ini, jumlah wisatawan Australia selalu lebih banyak.

Sumber daya manusia
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan dan RB) Asman Abnur melihat banyak jabatan penting di bidang pariwisata tidak dipegang oleh pegawai yang kompeten. Karena itu, Kemenpan dan RB akan merekrut sumber daya manusia terbaik untuk kemajuan pariwisata nasional.

“Sumber daya manusia harus berasal dari orang-orang yang memiliki keahlian,” kata Asman dalam acara wisuda 499 lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Senin, di Kota Bandung, Jawa Barat.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, yang hadir dalam acara wisuda itu, menyatakan keyakinannya, sektor pariwisata akan menjadi penghasil devisa nomor satu pada 2019 jika dibandingkan dengan sektor lain.

“Dengan target 20 juta wisatawan asing pada 2019, jumlah devisa yang masuk sekitar Rp 240 triliun. Sektor pariwisata juga akan memberikan kontribusi 15 persen pada produk domestik bruto,” ujar Arief.

Menurut dia, pariwisata adalah sektor yang mudah dan murah untuk meningkatkan produk domestik bruto, menyumbang devisa, dan membuka lapangan kerja baru bagi banyak orang.(MED/ARN/FER/SEM/COK/RAZ)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Maret 2017, di halaman 1 dengan judul “Daya Tarik Destinasi Berperan Penting”.