Daya Saing Pariwisata Indonesia Melonjak 8 Peringkat di TTCI

Pariwisata Indonesia menorehkan prestasi pada The Travel and Tourism Competitiveness Index World Economic Forum (TTCI WEF). Peringkat Merah Putih melonjak 8 tangga, dari papan 50 besar dunia menerobos ke posisi 42 dunia. Prestasi itu tentu tidak datang tiba-tiba.”Kemenangan itu direncanakan!” Ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Capaian daya saing yang naik 8 tingkat di lembaga pemeringkat dunia yang terpercaya itu betul-betul karena kinerja. Menurut Arief, ada 14 pilar yang dikalibrasi oleh TTCIEorld Economic Forum yang berpusat di Genewa itu. Dari 14 itu, ada 3 pilar yang kondisi riil di Indonesia tahun 2015 sangat parah, poinnya di atas 100 dari 141 negara. Di antaranya, environmental sustainability (134), health and hygiene (109), dan tourist service infrastructure (101).

Tugas utama Kemenpar sejatinya adalah promosi pariwisata agar wisman dan wisnus Iebih banyak pergerakan. Lalu apa “senjata” yang dipakai Menpar untuk mengejar ketertinggalan itu agar competitiveness index Indonesia naik?

“Kami Iuncurkan konsep lndonesia Incorporated! Bergotong-royong, kerja bareng, kerja bersama dalam kebersamaan! Di sinilah saya melihat kemampuan manajerial Presiden Joko Widodo yang sesungguhnya. Beliau langsung menetapkan pariwisata sebagai sektor prioritas bersama maritim, pangan, energi, dan infrastruktur,” katanya.

Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan difungsikan sebagai system integrator dan sejauh ini sudah berjalan dengan koordinasi yang bagus. Coba kalau kementerian yang terkait dengan kepariwisataan digabungkan menjadi satu, semua keputusan akan sangat cepat dan terarah.

Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Pedesaan dan BUMN. Mereka inilah yang bisa secara cepat menaikkan indeks daya saing Indonesia dijamin akan naik pesat dan akan menyalip rival-rivalnya.

Terkait competitiveness index bagi pariwisata dan Indonesia, menurut Menpar ada 3C untuk menjeiaskan secara gamblang mengapa TTCI WEF itu penting, yakni confidence, credibility, dan calibration.

Pertama, confidence level bangsa ini naik. “Secara internal, ke dalam negeri, kita makin percaya diri, bahwa bangsa kita mampu bersaing di level dunia. Kita tidak kalah dengan bangsa lain di dunia. Semakin yakin bahwa di pariwisata kita bisa berkompetisi dan memenangkan persaingan,” kata Arief.

Kedua, credibility bangsa ini mulai baik. “Secara eksternal, ke luar, kita juga semakin diakui, dipercaya, kredibel, orang semakin tahu bahwa Wonderful Indonesia memang hebat. Yang menyatakan kalau lndonesia hebat bukan kita sendiri, melainkan oleh Iembaga dunia yang juga kredibel. WEF TTCl yang beranggotakan 141 negara dan data-datanya tidak diragukan,” jelasnya.

Ketiga, calibration dengan membandingkan fakta lapangan dengan standar dunia. Menjadi hebat, naik 8 peringkat. ltu setelah dikalibrasi dan dipotret dengan kriteria dan standar dunia. Standar yang sama juga dipakai untuk momotret dan mengukur indikator dari semua negara.

Seberapa efektif peran “Indonesia incorporated” yang di-endorse Presiden Joko Widodo dan Menkomar Luhut B Pandjaitan itu? Jawabnya: paten! Ada penilaian TTCI WEF itu sangat dinamis dibandingkan dengan 2015 lalu.

Beberapa data di bawah ini penting untuk dicermati. Pertama, Indonesia naik 8 tangga di 42. Malaysia turun -1 di posisi 26. Singapura juga melemah -2, dan Thailand naik1 level di peringkat 34. “Proyeksi Tahun 2019, Indonesia akan naik di posisi 30 besar dunia,” ungkap Arief.

Dari data yang terekam TTCI, angka 14 pilar itu, hampir semua bergerak dinamis, ada yang naik dan turun, persis dengan apa kebijakan yang dilakukan pemerintah.

Sejatinya, tiga prioritas utama Kemenpar 2017 yang dikupas tuntas di Rakornas 2017, di Hatel Borobudur Jakarta, 30-31 Maret lalu, adalah jawaban. Ke depan, apa yang menjadi fokus perbaikan Indeks daya saing pariwisata itu. Agar makin kuat, makin tinggi, dan makin tepercaya, sebagai destinasi kelas dunia.

Tiga prioritas kerja Kemenpar 2017 itu juga mengacu pada TTCI itu, antara lain go digital, homestay, dan air connectivity,” jelas Arief. [*]