Banyuwangi Jadi Kota Pariwisata Terbersih di ASEAN

Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mendapat penghargaan tertinggi kategori clean tourist city dalam ASEAN Tourism Standard Award. Meski demikian, sampah musiman yang kerap mengotori pesisir pantai menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi pelaku wisata di Banyuwangi.

Penghargaan sebagai kota wisata terbersih se-Asia Tenggara versi ASEAN Standard Award tersebut diterima oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam ASEAN Tourism Forum di Thailand, Jumat (26/1). Selain kebersihan kota, kebersihan destinasi wisata juga menjadi pusat penilaian.

Di Banyuwangi, dua destinasi wisata yang menjadi titik penilaian ialah wisata bahari Bangsring Underwater di Kecamatan Wongsorejo dan Pantai Grand Watudodol (GWD) di Kecamatan Kalipuro yang makin tertata setelah direnovasi. Kedua destinasi tersebut dipilih karena komunitas warganya ikut aktif dalam menciptakan lingkungan bersih dan berkelanjutan. Selama ini, setiap pagi nelayan dan warga sekitar kawasan rutin membersihkan pantai. Mereka ingin wisatawan tak terganggu sampah.

Seusai menerima penghargaan di Thailand, Bupati Banyuwangi berkunjung ke Pantai GWD, Minggu. Dalam kunjungan tersebut Anas ingin mengapresiasi warga yang turut menjaga kebersihan destinasi wisata.

”GWD merupakan salah satu destinasi yang dinilai. Berkat kerja keras warga dan pemerintah daerah, GWD yang dulunya kotor dan kumuh sekarang mulai bersih. Kuncinya ada pada penataan kawasan yang melibatkan masyarakat untuk menjaga serta menciptakan destinasi wisata yang bersih,” ujarnya.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO–Warga berwisata di Pantai Grand Watudodol, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (28/1). Kabupaten Banyuwangi mendapat penghargaan tertinggi kategori clean tourist city dalam ASEAN Tourism Standard Award. Meski demikian, sampah musiman yang kerap mengotori pesisir pantai tetap menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi pelaku wisata di Banyuwangi.

Penataan yang dilakukan di GWD ialah, menempatkan pedagang kaki lima di satu tempat tertentu. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga menggandeng arsitek Budi Pradono untuk mendesain ruang terbuka serta aula yang ada di kawasan GWD.

Sementara di Pantai Bangsring, kelompok nelayan Samudera Bakti secara mandiri menata kawasan pantai menjadi destinasi wisata. Nelayan yang dahulu menangkap ikan dengan bom ikan dan potas, kini justru menjaga kelestarian alam bawah laut. Dampaknya potensi alam berupa terumbu karang dan ikan memikat wisatawan berkunjung ke Pantai Bangsring.

Namun, Banyuwangi masih punya pekerjaan rumah. Pada musim-musim tertentu pantai mereka mendapat limpahan sampah dari Selat Bali.

”Musim sampah yang biasa terjadi pada bulan September hingga Desember memang menjadi pekerjaan rumah. Tidak hanya bagi Banyuwangi, tetapi juga bagi Bali dan beberapa daerah lain. Saat ini salah satu bentuk antisipasi ialah dengan memperbanyak petugas kebersihan yang harus memungut sampah pada pagi hari sebelum banyak wisatawan datang,” ujar Anas.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Pesona Bahari GWD Abdul Aziz mengatakan, sampah dari Selat Bali memang kerap mengganggu wisatawan. Selama ini pihaknya hanya mengerahkan sejumlah warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata GWD untuk memunguti sampah yang terdampar di pesisir.

Di GWD, kunjungan wisatawan berkisar 300 hingga 400 orang per hari. Pada akhir pekan, kunjungan wisatawan ke GWD meningkat hingga 1.000 orang per hari.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama Dinas Lingkungan Hidup Banyuwangi juga sedang merancang sistem yang mengharuskan pengunjung membawa tas kresek untuk mengumpulkan sampah. Tas tersebut akan diberikan kepada pengunjung di loket masuk dengan membayar Rp 25.000. Pada saat pengunjung pulang, tas kresek berisi sampah diberikan kepada petugas untuk ditukarkan dengan uang Rp 25.000 yang tadi dibayarkan di pintu masuk.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi Yanuarto Bramuda mengatakan, penghargaan sebagai kota terbersih dalam forum pariwisata ASEAN melengkapi pengakuan internasional terhadap program wisata Banyuwangi. Sebelumnya, Organisasi Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) menobatkan Banyuwangi sebagai kawasan dengan inovasi kebijakan pariwisata terbaik dunia 2016.

”Tujuan forum ASEAN ini adalah memberikan standar baru bagi daerah di ASEAN yang sedang meningkatkan pariwisatanya. Global standard ini juga penting untuk mendorong Banyuwangi agar terus berbenah,” ujarnya.

Bramuda mengatakan, penilaian penghargaan dilakukan berdasarkan 108 kriteria. Dari 108 kriteria, Banyuwangi mendapat nilai 87,04 persen. Kenyamanan bagi wisatawan juga jadi salah satu materi penilaian. (GER)

Sumber: Kompas, 29 Januari 2018