Sukarno; Penjaga Kali Senatah

Sukarno (35) menghabiskan hari-harinya dengan baju basah dan naik-turun Kali Senatah. Kali kecil di Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, itu menjadi pusat perhatian Sukarno dalam enam tahun terakhir.

Ayah dua putri itu mengurus Senatah setelah ada tantangan dari teman-temannya sesama penggiat lingkungan hidup. Karno, demikian ia biasa disapa, memang bertahun-tahun aktif sebagai penggiat lingkungan hidup dengan konsentrasi pada ekosistem sungai.

“Kata mereka, saya mengurus sungai di banyak tempat. Kali di kampung halaman malah tidak ada yang mengurus,” ujar Karno di sela-sela kegiatannya memandu pelancong yang menyusuri Kali Senatah pada pertengahan Juli 2016.

Seperti banyak sungai di Indonesia, Kali Senatah pernah tidak terurus selama bertahun-tahun. Sungai kecil di Dusun Gadungan, Desa Girimulyo, itu menjadi tempat sampah. Debit airnya mengecil, airnya keruh, dan fungsi utamanya sebagai saluran irigasi sudah bertahun-tahun menurun.

“Tidak ada yang tertarik membersihkan, apalagi merawat kali sekecil ini. Apalagi, banyak sumber air lain di sini. Jadi, penurunan fungsi Kali Senatah tidak terlalu diperhatikan orang,” tutur anak pasangan Suwarno dan Sumarmi itu.

Karno tahu, ia tidak bisa mengembalikan ekosistem Senatah sendirian. Ia butuh warga lain di sekitar kali jika ingin mewujudkan keinginannya. Namun, untuk melibatkan warga, Karno harus menunjukkan apa manfaat pembersihan dan perawatan Senatah bagi mereka.

“Saya bertahun-tahun terlibat program penjagaan sungai di banyak tempat. Kesimpulannya sama, warga tidak akan terlibat kalau tidak melihat ada manfaat untuk mereka. Saya tidak mungkin hanya mengajak mereka membersihkan sungai. Tidak akan menarik,” kata pria yang lama menjadi peneliti di Forest Watch Indonesia itu.

Ada pula hambatan lain, Karno tidak besar di Gadungan. Orangtua Karno berusaha di Pekanbaru, Riau. Sejak kecil hingga masa kuliah, Karno berada di Pekanbaru. Bahkan, ia baru benar-benar pulang kampung beberapa tahun terakhir. “Karena Senatah, saya pulang kampung,” ujarnya.

Modal pinjaman

Program pembersihan Senatah dimulai pada 2010. “Saya tanya sana-sini, salah satu cara paling mudah mengajar warga menjaga lingkungan adalah dengan pariwisata. Kali Senatah dijadikan obyek wisata yang bisa mendatangkan penghasilan untuk warga sekitar,” ujarnya.

Pilihan itu juga tidak lepas dari banyaknya pelancong yang bertandang ke Ngargoyoso. Sebagian besar pelesir ke perkebunan teh di kecamatan yang bersebelahan dengan daerah wisata Tawangmangu, Karanganyar. “Banyak wisatawan ke Ngargoyoso, tetapi tidak ada yang ke Gadungan karena tidak ada obyek wisata di sini,” katanya.

Ia yakin Kali Senatah bisa dijadikan obyek wisata dan menjadi sumber penghasilan warga sekitar jika kebersihannya dijaga. Setelah dibersihkan dan ekosistem pendukungnya perlahan dipulihkan, Senatah bisa dijadikan obyek wisata susur sungai.

“Secara alamiah, kontur kali dan arusnya cocok untuk susur sungai. Debit dan arusnya berkurang karena kali lama tidak terawat. Setelah kali dirawat, debit dan arusnya membaik,” tuturnya.

Tentu ajakannya tidak diterima begitu saja. Karena itu, ia memulainya terlebih dahulu dengan modal pinjaman untuk menggelar wisata petualangan dan alam terbuka. “Saya pinjam tali, harness (sabuk pengaman), dan macam-macam lain dari beberapa kawan untuk modal awal usaha ini,” ujarnya.

Karena badan sungai tidak terlalu lebar, susur Senatah tidak bisa menggunakan perahu. Karno dan rekan-rekannya memilih ban dalam bekas truk sebagai kendaraan untuk susur sungai.

Dari hanya tiga orang, kini pengelola Senatah melibatkan 15 pemuda Dusun Gadungan. Mereka menjadi pemandu, penjaga loket, hingga perawat peralatan. “Warga sekitar juga terlibat dengan menjadi penyedia makanan dan minuman untuk tamu-tamu. Selain membeli makanan, tamu juga sering membeli hasil panen warga. Mereka keliling dusun setelah kegiatan di Senatah, lalu membeli sayur-mayur dari kebun warga,” paparnya.

Pemuda-pemuda Dusun Gadungan diajak Karno menjadi pengelola Senatah. “Sebelum terlibat di sini, kegiatan harian mereka negatif dan tidak produktif. Ada yang pernah jadi pemalak dan pengganggu wisatawan ke Tawangmangu. Sekarang, mereka justru sadar manfaat pariwisata,” ujarnya.

Pilihan wisata di Senatah juga terus berkembang. Dari rute pendek 800 meter, kini tersedia rute susur hingga 3 kilometer di Senatah. Bahkan, Karno dan rekan-rekannya tengah mempersiapkan rute 8 kilometer. “Semakin panjang rutenya, semakin banyak areal sungai yang terjaga,” ucapnya.

Selain susur kali, Karno dan rekan-rekannya juga menyediakan flying fox, jelajah alam, dan permainan beregu di luar ruang. Semua dikelola oleh warga sekitar Senatah. “Kami terus menambah anggota, tentu dari warga Dusun Gadungan,” ujar Karno.

Mandiri
Karno mengungkapkan bahwa dirinya pernah meninggalkan pengelolaan Senatah karena masih punya tanggung jawab di tempat lain. “Waktu memulai pembersihan Senatah, saya mengira cukup menginiasi. Setelah mulai stabil bisa ditinggalkan.”

Ternyata, perkiraan Karno salah. Pengelolaan Senatah memang stabil setelah beberapa tahun diinisiasi. Pengunjung semakin ramai, kali semakin bersih, dan tentu saja dampak ekonominya meningkat.

Namun, perkembangan itu memancing banyak pihak lain untuk memanfaatkan kepopuleran Senatah. Mereka hanya mau mengambil manfaat ekonomi tanpa mau terlibat penjagaan Senatah.

“Mereka masuk setelah saya melepaskan pengelolaan Senatah kepada teman-teman di Gadungan. Teman-teman di dusun, kan, terbiasa berprasangka baik saja. Ternyata malah ada yang menyalahgunakan. Makanya, saya kembali ke Gadungan dan terlibat lagi mengelola Senatah,” tuturnya.

Meski kembali terlibat, Karno tetap berharap suatu saat teman-temannya di Dusun Gadungan bisa mandiri mengelola Senatah dan menjaga kelestariannya.

“Air yang bersih akan menghasilkan kehidupan yang baik. Merusak dan menyalahgunakan sumber air berarti mengganggu kehidupan,” ujarnya.

17c44bb878cb40b6972844980733e9daKOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA

SUKARNO

Istri:
Partini
Anak:
Nabila Niko Putri
Annisyafiah Khuzaimah Sukarno
Pendidikan:
SMA An Nur Pekabaru
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau
Aktivitas:
Pengelola Senatah Adventure
Peneliti Forest Watch Indonesia
Penggiat Walhi

KRIS RAZIANTO MADA
———
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Agustus 2016, di halaman 16 dengan judul “Penjaga Kali Senatah”.