Sabar Suastono, Pemberdaya Kampung Tua

Sabar Suastono (49) tidak bisa berkelit ketika diminta menularkan jurus mengembangkan kampung wisata berikut warganya. Berbekal keberhasilan menata kawasan kampung lawas bernama Maspati, Surabaya menjadi destinasi wisata berkelas internasional. Bahkan Kampung Maspati semakin populer di mata wisatawan mancanegara. Sabar pun kini sering menjadi pembicara penataan kota tua.


Setelah berhasil menjadi pegiat kawasan Kampung Maspati, Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya menjadi destinasi wisata, Sabar dilibatkan dalam pengembangan Bubutan Heritage. Ia kini aktif dalam perkumpulan usaha kecil menengah dan kelompok sadar wisata (pokdarwis).

Sebagai daerah tujuan wisata populer Maspati memiliki omset Rp 60 juta per bulan. Sabar berharap bisa lebih baik. Ia ingin, capaian itu bisa dipertahankan atau bahkan terus ditingkatkan.

Upaya yang ia rintis bersama warga tidak sia-sia. Maspati terpilih menjadi Juara I terkait keramahan dalam Penghargaan Destinasi Wisata Surabaya pada 13 November 2016. Kampung itu juga menjadi juara umum Kelompok Asuhan Mandiri Pelayanan Tradisional melalui Pemanfaatan Tanaman Herbal dan Akupresur Provinsi Jawa Timur pada 2016.

 

KOMPAS/ADI SUCIPTO–Sabar Suastono dengan warga Maspati, Bubutan Surabaya yang memproduksi minuman herbal

Dia terharu, teringat nasihat Gus Mus (KH Mustofa Bisri) saat menghadiri Festival Kampung Lawas Maspati, Sinau Budaya dan Kebangsaan 2017 lalu. “Beliau mengatakan merawat kebudayaan itu susah. Menjaga nilai kerukunan itu berat apalagi di tengah kota. Terus kalau saya sudah tiada, apa masih dipertahankan,” kata Sabar, Rabu (23/1/2019) lalu.

Dia sendiri tidak menyangka akhirnya menyeburkan diri dalam bidang wisata kota lama. Di antara yang pernah berkunjung ke kampung ini, ada Fujii Masaaki dari Hiroshima University didampingi peneliti Andhang Rakhmad Trihamdani.

Selain itu, ada Lady Davis dari Friendship Force Lasvegas, didampingi Anny Bagyo Winoto dari Friendship Force Surabaya. “Sekitar 60 persen pengunjung Maspati, dari luar negeri. Pas ada kapal pesiar sandar di Surabaya bisa lebih ramai,” katanya.

Sewaktu muda Sabar pernah menjadi loper koran, selama lima tahun. Dia juga pernah bekerja sebagai petugas kebersihan, hingga jatuhnya Presiden Soeharto Mei 1998. Ia sempat banting stir menekuni usaha suvenir piala dari kuningan dan kaligrafi sejak 2001. Ia pernah melayani pembuatan suvenir dan piala dari rekanan Pemkot Surabaya. Ia juga mengerjakan maskot Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kalimantan Timur, berbahan fiber.

Sejak menjadi Ketua RW 08, sekitar 2012 lalu, ia mendorong penataan kampung merdeka dari sampah dan menjadi hijau serta bersih. Setiap RT menata kampungnya dengan dana swadaya warga, dari Rp 20 juta hingga Rp 25 juta.

Sabar tergerak bagaimana warga di kampung bisa mendapatkan penghasilan ketika Maspati menjadi obyek wisata. Ia pun mengamati di Ampel, dan mencari peluang apa yang bisa laku. Ia melihat justru nilai jual Maspati budaya kerukunannya di tengah perkotaan. Di Maspati tentunya ada bekas nilai-nilai sejarah juga yang bisa dijual untuk tujuan wisata.

Kampung Lawas Maspati mudah dijangkau. Letaknya strategis karena berada di tengah kota. Jaraknya sekitar 500 meter dari Tugu Pahlawan. Kawasan Kampung Maspati dulunya diisi oleh rumah-rumah Tumenggung dan Patih atau para pejabat Kerajaan.

Peninggalan itu di antaranya rumah mantri kesehatan, Raden Soemomihardjo, tokoh Keraton Surakarta (Solo) yang dikenal “ndoro mantri” oleh warga. Di Maspati ada bekas sekolah rakyat Ongko Loro di masa pendudukan Belanda. Bangunan bekas pabrik roti milik Haji Iskak yang menjadi dapur umum saat pertempuran 10 November 1945, sejak 1958 hingga kini menjadi Losmen “Asri”.

Kampung Lawas Maspati juga berperan vital dalam sejarah perang kemerdekaan. Ada bangunan yang didirikan pada 1907, digunakan sebagai markas membahas strategi perang 10 November 1945. Saat ini bangunan itu digunakan sebagai kafe Omah Lawas. Di kampung itu juga ada makam pasangan suami istri Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh. Keduanya, kakek dan nenek dari Joko Berek atau Sawunggaling.

Berbekal bangunan berniai sejarah, dan kuatnya warga menjaga nilai budaya rukun dan ramah, Kampung Lawas Maspati kini menjadi salah satu destinasi wisata. Kawasan wisata itu diresmikan Walikota Surabaya Tri Rismaharini 24 Januari 2016.

Wisata di kampung itu berkembang berkat peran warga menjaga kebersihan lingkungan dan merawat bangunan lawas. Mereka pun menuangkan ide-ide kreatif untuk mempercantik kampung dengan mengecat paving block atau dinding di lorong gang. Kiri dan kanan jalan kampung penuh tanaman.

Warga mengemas paket wisata khusus hari Sabtu dan Minggu. Rombongan wisatawan minimal 15, maksimal 25 orang bisa membayar Rp 2 juta untuk paket kunjungan lengkap. Mereka menikmati wellcome drink di setiap RT, musik patrol, edukasi membuat minuman herbal, pembuatan cincau, hingga belajar aksara Jawa.

Bukan pakar
Sabar menyadari dirinya bukan akademisi, bukan penulis dan bukan pembicara. Tetapi berkat pengalamannya, kini ia menjadi pembicara di berbagai forum dengan honor sedikitnya Rp 1,5 juta sekali tampil menuturkan kisah penataan Maspati. Ringkasan materi menggunakan power point dibuatkan anak atau keponakannya. “Saya juga dilibatkan dalam kelompok sadar wisata (pokdarwis) Bubutan,” kata Sabar.

Ia menyadari dalam upaya merangkul warga ada kendala. Dirinya fokus pada orang yang senang dan mau menerima gagasan saja. “Tentunya dengan keyakinan harus bisa membuktikan dulu. Kalau ada hasilnya, yang tadinya tidak sepaham akan mengikuti dengan sendirinya,” papar si bungsu dari lima anak pasangan Sugito Dharmo Prawiro dan Kustilah itu.

Warga pun kini bisa merasakan dampak positifnya. Kampung terasa hijau dan asri. “Di sini juga dikenal warganya ramah, suasana kampung aman dan tidak berisik,” tuturnya.

Ekonomi warga pun menggeliat, mulai dari suvenir songkok lukis dan kaos lukis hingga lestarinya seni musik patrol. Selain itu, setiap RT punya produk unggulan untuk menyambut tamu mancanegara. Kampung berpenduduk 375 keluarga atau sekitar 1.750 jiwa itu pun menjadi tempat menghilangkan penat.

Menurut Sabar, konsep kampung tua bukan sekadar untuk branding, tujuan wisata atau tetenger (penanda sejarah). Yang terpenting ada pelibatan warga agar berdampak positif. Penataan kampung lawas bisa menjadi barometer pengembangan ekonomi, perekat kerukunan dan menjadi penjaga nilai budaya.

Sabar Suastono

Lahir : Surabaya 20 Juni 1969

Istri : Nurul Mahabatul ‘Aliyah

Anak : 1. Rifki Khatinah Silmi, Alisah Safinatunnajah

Pendidikan
SD Pasar Turi
SMP Negeri 2 Surabaya
Madrasah Aliyah Pagerwojo, Jombang

Penghargaan: Pegiat Kampung Lawas Maspati Surabaya dari Wali Kota Surabaya 31 Mei 2018

ADI SUCIPTO KISSWARA/IQBAL BASYARI/ DEFRI WERDIONO

Sumber: Kompas, 4 Februari 2019

more recommended stories