Ong Yu Kim,Setia Menjaga Tahu Legenda

Legenda 100 tahun tahu sumedang tak lepas dari kesabaran dan tangan terampil orang-orang di balik dapurnya. Bukti buah sejahtera pasti datang saat inovasi dan kesetiaan itu jalan bersamaan.

Tak ada kesan mewah dari toko sang perintis. Bentuknya tak banyak berubah sejak zaman dulu, klasik penuh karisma meski diapit banyak bangunan di sekitarnya. Terletak di Jalan 11 April No 53, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, toko itu berjarak sekitar 100 meter dari Pasar Sumedang.

Berada di depan jalanan padat tak mengurangi minat banyak orang datang dan mengantre di depan etalase.

Siang itu, dua dari 10 pekerjanya sibuk melayani konsumen. Sembari menunggu, pelanggan bisa melihat mereka beraksi di dapur berukuran 5 meter x 5 meter.

Ada empat wajan berdiameter setengah meter yang digunakan saat itu. Digenangi minyak panas, tahu-tahu itu menyembul tanda matang siap disantap. Tak menunggu lama, setelah tahu matang itu ditiriskan, tahu-tahu basah diambil dari dua gentong besar siap untuk dimasak.

Kesibukan yang sama terjadi di bagian belakang toko yang juga menjadi rumah Ong Yu Kim (78). Ada dua ruangan yang dijadikan dapur mengolah kacang kedelai menjadi bahan tahu basah.

Hari itu, hanya dapur berukuran 5 meter x 4 meter yang dipakai. Dapur itu digunakan untuk produksi pada hari biasa. Di tempat itu, pekerjanya membuat tahu mulai pukul 05.00 hingga pukul 10.00.

”Dapur yang berukuran lebih besar, sekitar 7 meter x 4 meter, baru digunakan melayani permintaan saat hari libur, seperti Lebaran dan waktu liburan panjang lainnya,” katanya.

Meski sederhana, dapur itu mengutamakan kebersihan. Tidak ada bau anyir; bersih dan kering. Beragam alat kebersihan ada di sana.

”Kalau dapur pabrik tahu bau, artinya limbahnya tidak dikelola dengan baik. Rasa tahu juga dipastikan tidak nikmat. Saya tidak ingin itu terjadi di sini,” ujar Yu Kim.

Walaupun umurnya tak lagi muda, saat diajak bicara tentang tahu sumedang, semangat Ong Yu Kim mengalahkan senja usianya.

Saat Kompas mengunjungi kediamannya di Sumedang, Jawa Barat, Jumat (3/2), Yu Kim dengan panjang lebar menjelaskan sejarah Tahu Bungkeng yang dirintis ayahnya seabad lalu.

”Ayah saya, Ong Boen Keng, pertama membuka Toko Tahu Bungkeng di Sumedang tahun 1917. Resepnya dari kakek, Ong Kino, yang datang lebih dulu dari Tiongkok awal 1900-an,” katanya.

Ingatannya tergolong masih segar saat menceritakan sejarah besar Tahu Bungkeng. Lahir pada 1938, ia saksi hidup keteladanan wirausaha kuliner tahu sumedang yang hingga kini terus bertahan.

Yu Kim sudah mulai membantu ayahnya membuat tahu sejak kecil. Pekerjaannya beragam. Ia ikut mendorong batu penggilingan untuk mengolah bahan baku tahu. Ia juga merangkap sebagai pengangkut kayu kering, bahan bakar utama tungku penggorengan.

”Semua keluarga ikut membantu. Selain ayah dan saya, ibu juga membuat tahu di dapur, biasanya sambil menggendong adik,” ujarnya.

Apabila sekarang Tahu Bungkeng banyak dicari, dulu keadaannya berbeda. Sekitar tahun 1950-an, tahu goreng garing belum sepopuler sekarang. Ayahnya menyasar konsumen pengendara dan penumpang bus yang kebetulan melintas di pinggir jalan raya Bandung-Sumedang-Cirebon.

Saat itu, Tahu Bungkeng dibuat 500 buah per hari. Harganya hanya 5 sen per tahu. Kini, rata-rata harga tahu Sumedang Rp 500-Rp 600 per buah.

”Lama-kelamaan banyak yang tertarik. Bentuknya persegi, makanan apa ini bentuknya persegi? Keunikan itu membuat tahu jadi laku keras,” katanya.

Cinta kepada tahu
Selepas lulus dari SMA Mandarin Ciao Chung, Kota Bandung, pada 1958, Yu Kim sepenuhnya membantu usaha ayahnya. Butuh tiga tahun hingga akhirnya Boen Keng percaya bahwa Yu Kim mampu menjadi nakhoda Tahu Bungkeng.

Ia berkisah, ayah tidak pernah memaksa meneruskan usaha warisan keluarga. Cinta kepada tahu muncul sendiri ketika terlibat proses pembuatan tahu hingga melihat konsumen melahap tahu dengan wajah puas. Rasa itu membantu Yu Kim membawa Tahu Bungkeng terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Ia mengganti penggilingan batu bertenaga otot manusia menjadi mesin berbahan bakar solar. Mesin itu memberi kemudahan produksi tahu yang lebih banyak dengan waktu lebih singkat. Kapasitas produksi meningkat, dari 500 potong tahu per hari menjadi 5.000 potong per hari.

Yu Kim juga memperbarui alat pembakaran. Apabila sebelumnya selalu kesulitan mencari kayu bakar saat musim hujan, kompor solar memudahkan segalanya. Produksi yang biasanya berhenti saat musim hujan mendapat solusi karena mesin itu bisa dinyalakan kapan saja.

Peminat tahu pun terus berkembang. Pelanggan tak hanya tetangga atau konsumen yang tinggal di Sumedang. Banyak juga perantauan Sumedang di luar kota yang rindu menyantap Tahu Bungkeng saat pulang kampung. Mulai dari pedagang kecil hingga mantan Wakil Presiden RI asal Sumedang Umar Wirahadikusumah.

”Ada pelanggan yang ketika kecil suka mencuri tahu kami. Merasa bersalah, kini ia jadi pelanggan Tahu Bungkeng setiap pulang ke Sumedang,” ujarnya Ong Yu Kim terbahak.

Kisah itu semakin menabalkan ketenaran Tahu Bungkeng meski kini banyak bertebaran toko penjual tahu di Sumedang. Kini, ada 300 unit usaha dengan total pekerja mencapai 1.500-2.000 orang hidup dari tahu.

”Banyak mantan pekerja di sini bekerja di tempat lain. Hal itu membuat cara pembuatan tahu yang dipelajari di sini menyebar ke berbagai daerah di Sumedang,” katanya.

Akan tetapi, Yu Kim tidak ambil pusing dengan banyak toko penjual tahu di Sumedang. Ia bahkan senang kuliner keluarganya bisa melanglang buana ke berbagai daerah dan berguna bagi banyak orang.

Terus hidup
Tak terasa sudah dua jam Yu Kim bicara. Namun, dalam semua kata yang ia ucapkan, masih saja semangat itu terbaca. Tubuh rentanya seperti menolak lelah. Ia berjalan tegap tanpa bantuan tongkat. Suaranya masih keras dan, saat bicara, giginya masih terlihat lengkap dan rapi.

”Kuncinya makan tahu sumedang,” ucap Yu Kim berkelakar ketika ditanya apa rahasia kesehatannya.

”Bapak sehat, jarang sakit,” ujar Suriadi (50), putra keempat Yu Kim, penerus Tahu Bungkeng sejak 1992.

Belajar banyak dari kemurahan orangtua, Suriadi menerima ramah siapa saja yang datang. Mulai dari mahasiswa, peneliti, hingga wartawan yang ingin mengetahui sejarah hingga cara pembuatan Tahu Bungkeng tak pernah ditolak.

Suriadi bahkan membuat buku, judulnya Membuat Tahu Sumedang ala Bungkeng. Isinya cara pembuatan hingga analisis bisnis, penggunaan kacang kedelai lokal sampai cara menarik minat konsumen yang terbukti bertahan selama 100 tahun.

Kini, saat tongkat estafet diserahkan kepada Suriadi, Yu Kim menikmati kesetiaan menjaga warisan keluarga itu. Lima dari tujuh anaknya menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Salah seorang cucunya telah merampungkan kuliahnya di Amerika Serikat.

Tidak hanya itu, ia melihat banyak orang Sumedang juga hidup sejahtera dari tahu sumedang. Mereka bekerja sebagai perajin dan penjual tahu yang semua embrionya hadir saat Ong Kino meracik resepnya 100 tahun lalu.

”Semoga tahu sumedang bisa terus hidup, memberi bahagia dan sejahtera bagi semua orang,” ujar Ong Yu Kim.

KOMPAS/BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA

ONG YU KIM

Lahir:
Sumedang, 27 November 1938
Istri:
Suin (76)
Pendidikan:
SMA Mandarin Ciao Chung, Kota Bandung (lulus 1958)

BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Februari 2017, di halaman 16 dengan judul “Setia Menjaga Tahu Legenda”.

more recommended stories