Rambu Unik di Jalan Menanjak

Rambu-rambu lalu lintas berfungsi agar pengendara bisa melintas suatu ruas jalan dengan lancar dan selamat. Rambu memberi isyarat tentang kondisi jalan beberapa puluh meter ke depan yang tidak atau belum terlihat dari posisi pengendara sehingga mereka harus memperlambat kendaraannya atau harus lebih waspada. Contohnya tikungan ke kiri atau ke kanan disimbolkan dengan dengan rambu berwarna dasar kuning dengan gambar anak panah hitam melengkung ke kiri atau ke kanan. Demikian pula rambu yang menunjukkan turunan, tanjakan, penyempitan jalan dst.

Rambu warna dasar kuning berarti peringatan. Selain itu ada dua jenis rambu lain, yaitu rambu warna dasar biru dan juga merah. Warna dasar biru berarti penunjuk yang wajib diikuti sedangkan warna dasar merah atau warana dasar kuning atau biru ditambah unsur merah berarti larangan.

Rambu-rambu umum bisa kita jumpai di manapun kita melintas, sehingga di manapun kita berkendara kita selalu menemui rambu yang sama. Jadi sebuah rambu warna dasar kuning dengan panah melengkung ke kanan selalu kita temui ketika kita melintas di jalan yang akan membelok ke kanan di daerah manapun, bahkan di negara manapun.

Namun ada juga rambu yang bersifat khusus dan lokal. Rambu yang seperti ini hanya dipasang di lokasi di mana ada sesuatu yang khas setempat yang tidak ada di tempat lain. Sebagai contoh, rambu logo kangguru hanya ada di negara Australia karena ia binatang yang hanya ada di Australia. Di negeri ini ada banyak didapati rambu logo kangguru yang memperingatkan para pengendara di jalan di kawasan hutan agar mereka berhati-hati karena sering ada kangguru yang tiba-tiba meloncat dari satu sisi jalan ke sisi lainnya. Dan tentunya banyak aneka rambu unik lainnya di berbagai belahan dunia sesuai dengan kebetuhannya.

Nah, di suatu titik di jalan menuju Candi Sukuh pernah terpasang sebuah rambu yang juga khas, tidak akan pernah Anda temui di tempat lain di manapun. Sekitar tiga ratus meter dari dari pangkal jalan menuju Sukuh, tepatnya di sebuah lokasi bernama Penthuk, pernah ada rambu bulat warna dasar biru bertuliskan “Harus Tuter”. Sebagaimana dijelaskan di atas rambu dasar biru artinya penunjuk yang wajib diikuti. Jadi rambu tersebut mewajibkan setiap pengendara yang lewat agar membunyikan klakson ketika sampai di lokasi tersebut. Bagi pengendara yang baru pertama kali melintas tentu bertanya-tanya maksud rambu tersebut. Umumnya klakson dibunyikan menjelang belokan. Padahal ke arah depan dari lokasi rambu jalannya lurus dan tanjakan yang tajam.
harustuterTanpa bekal informasi tetang kepercayaan yang dianut masyarakat setempat Anda tak akan pernah mengerti alasan pemasangan rambu dimaksud. Sekitar enam puluh meter dari terpasangnya rambu tadi kondisi jalan menanjak lumayan tajam. Tingkat kemiringannya bisa mencapai 40 derajat. Tepat sebelah kanan tanjakan ini ada sebuah batu besar berbentuk mirip kubus. Penduduk setempat menyebutnya Watu Gede. Batu ini berukuran panjang sekitar 2,5 m dan tinggi 1,5 m. Itu yang nampak di permukaan. Jika diukur bagian yang terkubur dalam tanah tentu lebih besar lagi. Masyarakat setempat meyakini bahwa batu ini dihuni oleh makhluk halus. Konon makhluk ini akan selalu menghambat atau menghentikan setiap kendaraan yang melintas di tanjakan di samping batu ini. Untuk itu para pengendara harus permisi kepada makhluk yang tidak terlihat ini dengan cara membunyikan klakson agar bisa lewat.

Asal Mula Kejadian
Jalan menuju Candi Sukuh membentang dari Dusun Nglorog,— pertigaan menuju Kemuning—, hingga ke kompleks Candi Sukuh dengan panjang sekitar 1,8 km. Pada jamannya, yaitu sekitar tahun 1974 / 75 ia merupakan jalan yang pertama kali diaspal selain jalur perekonomian Karangpandan – Kemuning yang jauh lebih dahulu diaspal. Sebagai jalan menuju ke lokasi wisata Candi Sukuh yang merupakan ikon penting daerah maka jalan ini mendapat prioritas untuk diaspal duluan. Padahal banyak akses ke banyak pedesaan di kawasan ini dengan kondisi jalan yang buruk yang seharusnya didahulukan. Sehingga ketika berlangsung pengaspalan, proyek ini menjadi tontonan orang yang menarik. Saat itulah banyak orang yang untuk pertama kalinya menyaksikan pekerjaan pengaspalan. Termasuk juga pertama kalinya melihat kendaraan penumbuk jalan atau setum. Orang sering menyebutnya Slender. Sejumlah orang ikut terlibat dengan cara mengumpulkan batu dan kericak (kerikil hasil pecahan dari batu besar). Sebelum diaspal jalan menuju Sukuh hanya jalan tanah yang ditutup batu permukaannya.

Seiring dengan selesainya pengaspalan jumlah pengunjung candi meningkat drastis. Mereka adalah wisatawan lokal maupun manca negara. Banyak wisatawan lokal adalah wisatawan asal Solo dan kota-kota lainnya. Dan jalan yang baru saja selesai diaspal ini ramai dilewati kendaraan. Baik kendaraan roda empat maupun roda dua. Roda empat yang lewat tidak hanya kendaraan pribadi seperti sedan dan jeep namun pernah juga melintas beberapa bus yang membawa wisatawan yang berombongan. Banyak di antara kendaraan yang melintas merupakan mobil-mobil keluaran terbaru dari berbagai merk. Fenomena ini menjadi tontonan menarik bagi penduduk setempat. Tidak hanya anak-anak dan remaja, orang tua tak ketinggalan. Maklum, sebelumnya mereka hanya melihat mobil-mobil bagus seperti itu ketika pergi ke kota terdekat, yaitu Solo. Di daerah lereng Lawu ini pada pertengahan tahun 1970-an masih sangat jarang terlihat mobil. Sepeda motor juga tidak jauh beda. Masih langka.

Setiap hari, terutama pada hari Minggu dan hari libur lainnya banyak kelompok masyarakat sudah berkumpul di beberapa lokasi strategis sejak pagi sekedar untuk menyaksikan mobil-mobil yang lewat. Banyak yang berkumpul di pos ronda atau patrolan, juga di pekarangan rumah yang posisinya lebih tinggi dari jalan, seperti di beberapa halaman rumah di Dusun Selorejo. Karena pada dasarnya mereka takut tersenggol kendaraan kalau menonton di tepi jalanan. Ada pula yang nongkrong di pekarangan makam atau sareyan Dusun Pabongan karena posisinya yang strategis.

Salah satu tempat menonton yang favorit adalah di pekarangan makam Dusun Pabongan ini. Karena dari tempat ini kendaraan yang masih jauh sudah terlihat. Mobil-mobil yang baru mulai merangkak memasuki Nglorog, —yang merupakan pangkal jalan—, sudah terlihat. Bahkan suara mesinnya yang menderu juga sudah kedengaran. Ketika ada mobil datang dan mendekati batu besar di utara Pabongan ini orang-orang berharap-harap cemas. Mereka mau melihat apakah mobil yang baru datang ini berhasil melewati tanjakan dengan mulus di samping batu itu atau mogok. Jika ternyata mobil tadi lewat dengan mulus mereka bersorak gembira. Sebaliknya jika mogok mereka segera berdiskusi dan menilai bahwa mobil mogok tadi akibat dihadang oleh makhluk yang menghuni batu besar. Secara sepakat mereka menyalahkan sang sopir karena ia tidak membunyikan klakson sebelum mencapai tanjakan samping batu. Dan mereka terus berdiskusi tentang kejadian dengan penuh semangat.

Topik ini menjadi tema pembicaraan yang menarik di setiap pertemuan. Tidak hanya orang tua, anak-anak juga turut membahasnya. Fenomena tentang seringnya mobil yang mogok saat melintas di sebelah watu gede ini bak menjadi opini publik. Mayoritas warga memiliki kesimpulan yang sama, bahwa kendaraan mogok akibat dihadang oleh makhluk penghuni batu Watu Gede. Dan untuk mengatasi masalah ini mereka meminta agar dipasang rambu-rambu lalu lintas yang di sebuah titik beberapa puluh meter sebelum watu gede sebagai peringatan agar para pengemudi membunyikan klakson. Atas anjuran penduduk inilah akhirnya pihak kontraktor proyek pengaspalan jalan memasang rambu berbentuk bulat warna biru bertuliskan “Harus Tuter”. Alhasil ini merupakan rambu lintas paling unik, sebuah rambu yang mengacu pada komunikasi dengan makhluk halus. Sebuah sikap yang tidak diterima akal di era modern.

Cermin Pola Pikir Masyarakat
Fenomena kepercayaan masyarakat setempat terhadap adanya mahluk penghuni batu ini bukanlah satu-satunya. Dalam kehidupan sehari-hari banyak dijumpai praktek-praktek interaksi dengan hal-hal gaib lainnya. Terdapat beberapa tradisi yang telah mereka lakukan secara turun temurun. Misalnya aneka ritual dalam penyelenggaraan pesta pernikahan, sunatan, syukuran, pasca-panen dan even-even lain. Mereka melengkapi rentetan even tersebut dengan praktek yang dikenal dengan kondangan, nonjok, dst.

Kondisi masyarakat kala itu sedemikian rupa sehingga pemikirian mereka dengan mudah terbawa ke arah hal-hal yang tidak rasional, yaitu mengaitkan segala sesuatu dengan makhluk halus atau alam ghaib. Di antara faktor-faktor penyebabnya adalah, mayoritas masyarakat setempat merupakan orang-orang yang kurang terdidik. Lebih banyak yang buta huruf katimbang yang melek. Kalaupun ada sekelompok yang sempat mengenyam pendidikan, kebanyakan hanya tamatan sekolah dasar. Itupun tidak semuanya tamat dan berijazah. Ada sedikit yang sampai jenjang lanjutan pertama dan hampir tidak ada yang mencapai tingat SMA.

Sumber informasi yang masuk ke lingkungan mereka rata-rata tersebar dari mulut ke mulut. Tidak ada media cetak berlangganan seperti surat kabar dan majalah seperti yang dinikmati orang kota. Memang ada sejumlah warga yang memiliki pesawat radio dengan teknologi transistor. Apa lagi pesawat televisi, sama sekali tidak ada. Jangan tanya soal soal listrik. Masih jauh. Mereka mengaktifkan pesawat radio dengan tenaga batrei sel kering (dry cell).

Kondisi kehidupan masyarakat yang digambarkan di atas telah menyebabkan masyarakat menafsirkan setiap fenemona yang ada di hadapan mereka dengan logika yang dangkal tanpa didukung referensi yang valid. Misalnya kejadian mobil mogok mereka simpulkan sebagai akibat dihadang makhluk halus. Karena memang pemikiran mereka tidak mampu mengalanalisis bagaimana teknologi berfungsi.

Beberapa fakta
Faktanya, seringnya terjadi mobil mogok saat melintas di samping watu gede karena beberapa faktor yang bersifat teknis. Pertama, faktor kelaikan mesin mobil. Banyak kasus mogok karena mobil tersebut sudah berusia tua, CC kecil dan masih ditambah faktor kelebihan muatan sehingga mobil tiba-tiba terhenti ketika sampai titik di samping watu gede yang jalannya sangat curam. Faktor lain adalah keterampilan pengemudi/sopir. Banyak sopir yang sebelumnya kurang menyadari kalau jalannya curam. Terutama sopir yang baru pertama kali melintas. Karena dari kejauhan kondisi jalan terlihat normal sehingga sopir menggunakan persenel 2 atau 3. Ketika mobil tiba di dekat watu gede sang sopir terkejut dengan kecuraman jalan. Ketika dia mencoba menurunkan persenel mesin mobil sudah terlanjur kehilangan tenaga dan akhirnya mogok. Fakta lainnya, banyak mobil yang melintas dengan mulus walaupun tanpa membunyikan klakson karena kondisi mobil masih prima dengan sopir yang mengemudikannya terampil. Sebaliknya juga sering mobil mengalami mogok meskipun sang sopir sudah membunyikan klakson beberapa kali.

Keadaan Mulai Berubah
Sementara itu, rambu peringatan “Harus Tuter” itu sendiri tidak berumur panjang. Selang beberapa lama setelah dipasang tiba-tiba raib. Nampaknya karena ulah tangan-tangan jahil. Anehnya tidak ada upaya memasang rambu penggantinya. Tidak ada warga yang menuntut dipasang ulang. Lambat laun masyarakat mulai lupa tentang rambu unik tersebut. Pada akhirya batu Watu Gede yang menjadi “rumah” makhluk halus itu dibongkar dan dipecah-pecah untuk dimanfaatkan bagi pembangunan rumah atau bangunan lainnya. Lokasi bekas Watu Gede diratakan, dicangkul dan ditanami singkong. Jika Anda lihat ke tempat tersebut sekarang sudah tak ada bekas-bekas suasana angker.

Selanjutnya keadaan mulai berubah. Seiring dengan perubahan jaman, teknologi mulai merangkak masuk ke daerah ini. Mulai banyak orang-orang muda yang mengenyam pendidikan dan pemikiran masyarakatpun berubah pula. Ajaran tauhid mulai dihayati dan diamalkan di daerah ini atas jasa para mubaligh yang terus berdakwah tanpa kenal lelah. Pengajian-pengajian diselenggarakan secara rutin di berbagai dusun. Di Pabongan, Berjo, Tagung dan tak ketinggalan di wilayah kidul kali seperti dusun Tambak, Dukuhan, Plesungan, Bangkang dll. Tua muda, pria wanita berduyun-duyun menuju majelis ta’lim. Praktek-praktek upacara kendurenan (istilah setempat ‘kondangan’), nyadran, nonjok, dll sudah langka ditemui. Dalam sehari semalam suaran adzan selalu terlantun dengan merdu sebanyak lima kali dari corong pengeras suara masjid-masjid dan mushola-mushola di seantero Lereng Lawu. Islam datang, jahiliyah melayang. Allahu Akbar

Dalam Islam, percaya adanya yang ghaib adalah salah satu rukunnya. Allah memang menciptakan bangsa makhluk halus seperti jin, syaitan dan malaikat yang tujuannya sama dengan manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah. Tetapi manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang mulia, makhluk halus dengan berbagai jenisnya berada di level bawahnya. Berarti Islam mengajarkan kita untuk percaya adanya makhluk halus. Tetapi kita dilarang bersikap berlebihan hingga timbul rasa takut terhadap mereka. Misalnya kita tidak diperbolehkan menghormati jin dengan aneka sesajenan, mengucapkan permisi kepada jin dengan mengucapkan “permisi mbah…” atau dengan cara-cara apapun termasuk dengan membunyikan klakson kendaraan manakala melewati tempat yang dianggap angker.

(mohammad.maksum@mail.ru)