Godok Penggantian Nama Tahura Ngargoyoso

DPRD Jateng mulai menggodok rancangan peraturan daerah (Perda) tentang pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngargoyoso, Karanganyar. Seiring akan diperdakannya pengelolaan taman hutan seluas 231,3 ribu hektare tersebut, Jateng akan mengusulkan penggantian nama Tahura Ngargoyoso tersebut.
Wakil Ketua DPRD Jateng Fikri Faqih mengatakan, arahan dari pemerintah pusat, nama tahura di Indonesia lazimnya bukan mengambil nama tempat, melainkan nama pahlawan nasional. Nantinya, kata Fikri, akan ditentukan pilihan pengganti nama Tahura Ngargoyoso itu. Menurutnya saat ini sudah ada tiga pilihan nama pengganti, yakni Jenderal Sudirman, Pangeran Sambernyawa (Pangeran Mas Said), dan Pangeran Diponegoro.

“Untuk nama Pangeran Sambernyawa itu, kalau nanti terpilih, saya usulkan namanya pakai nama Pangeran Mas Said saja. Meski orangnya sama, kalau Pangeran Sambernyawa kan kesannya sangar. Kalau pakai nama Pangeran Mas Said lebih kalem,” ujar Fikri.
Menteri Kehutanan
Kepala Dinas Kehutanan Jateng Sri Puryono menjelaskan, pergantian nama Tahura Ngargoyoso itu nantinya akan diusulkan ke Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Menurutnya, sudah menjadi aturan bahwa nama taman hutan yang menetapkan adalah Menhut.

“Nama pengganti ini belum final, sebab masih digodok dengan Panitia Khusus (Pansus) DPRD Jateng yang diketuai Nuniek Sriyuningsih dari Fraksi PDIP. Memang sesuai arahan Kemenhut, nama tahura yang lazim adalah nama pahlawan nasional dari daerah setempat. Karena ini menyangkut nama pahlawan, kami akan mengkonsultasikan dengan pihak terkait seperti Dinas Sosial dan lainnya,” tuturnya.

Ia jelaskan, Tahura Ngargoyoso yang ada di kaki Gunung Lawu itu, meski keberadaannya sudah lama, sejauh ini memang belum ada perdanya. Perda tahura yang prosesnya masih tahap awal tersebut, lanjut dia, intinya untuk memayungi pengelolaan dalam rangka pelestarian sumber daya alam hayati, flora, dan fauna. Juga untuk menyelamatkan ekosistem serta pengembangan ekowisata lingkungan.

Sri Puryono mengungkapkan, tahura yang terletak di Desa Brejo, Kecamatan Ngargoyoso, itu sangat penting. Sebab, kawasan Pegunungan Lawu adalah daerah penyangga dan resapan air untuk daerah-daerah di bawahnya seperti Karanganyar, Solo, Sragen, dan Klaten.

Sebagai catatan, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 849/Kpts-II/1999 tanggal 11 Oktober 1999, kawasan Hutan Lindung seluas 231,3 yang terletak di RPH Tambak, BKPH Lawu utara, KPH Surakata, yang secara administrasi kewilayahannya berada di Desa Brejo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar ditetapkan menjadi Tahura Ngargoyoso.
Tahura Ngargoyoso berada di kaki Gunung Lawu dengan ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut. (Yunantyo Adi S, Saptono JS-43)

Sumber: Suara Merdeka, 22 Januari 2011

Trackbacks (0)

  1. No trackbacks yet.

Comments (0)

  1. No comments yet.

Leave a Reply